- ANTARA FOTO/Rosa Panggabean
Ambruknya Ritel-ritel Konvensional
Sepanjang 2017 sejumlah peristiwa penting ekonomi juga terjadi silih berganti. Dari kisruh taksi online hingga penerapan transaksi nontunai di jalan tol. Namun, di tengah peristiwa tersebut peristiwa terkait ambruknya bisnis ritel menjadi ulasan paling dicari masyarakat.
Peristiwa itu diawali dengan tutupnya gerai 7-Eleven di seluruh wilayah Indonesia. Ritel ini tutup lantaran tak mampu lagi menunjang kegiatan operasionalnya. Selain itu, gagalnya akuisisi oleh PT Charoen Pokphand Restu Indonesia membuat usaha ini tidak bertahan.Â
Ritel yang telah ada di Indonesia sejak 2009 itu mengakhiri sepak terjangnya, setelah menanggung kerugian lebih dari Rp600 miliar. PT Modern Sevel Internasional anak usaha PT Modern Internasional Tbk yang menjadi pemilik 7-Eleven menutup secara resmi 25 gerainya.Â
Tutupnya 7-Eleven menjadi hal menarik untuk diulas oleh sejumlah instansi terkait, sebab pada 2014, perusahaan ini sempat mengantongi laba sebesar Rp83,8 miliar. Namun, kemudian keuntungan tersebut menurun.
Bahkan, berdasarkan laporan perseroan pada 2016, kerugian operasional yang diterima 7-Eleven mencapai Rp695,78 miliar dan rugi tahun berjalan mencapai Rp554,87 miliar.Â
Tak cuma sampai di situ, ritel lain dan bahkan cukup besar dan lama di Indonesia seperti Matahari serta Ramayana pun tak lepas dari badai. Dan untuk Matahari pada 30 September 2017Â menutup dua gerainya yaitu Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai.
![]()
Pengunjung memilih barang di dalam gerai Matahari, Pasaraya, Manggarai. (VIVA/Linda Hasibuan)
Department Store tersebut juga menutup gerai besar lainnya pada akhir November 2017 tanpa diketahui sejumlah media yaitu di Mal Taman Anggrek. Banyaknya, penutupan ini kemudian disangkutpautkan dengan mulai lemahnya daya beli masyarakat Indonesia.
Hal itu kemudian terlihat dari data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) yang melihat sepanjang semester I-2017 industri ritel Tanah Air hanya tumbuh 3,7 persen atau anjlok dibandingkan tahun lalu yang mencapai 10 persen.
Tak cuma sampai di situ, ambruknya sejumlah ritel di Tanah Air tahun ini, juga banyak menyangkutpautkan dengan makin tubuh suburnya bisnis online atau e-commerce. Sebab, perubahan pola transaksi ke online membuat masyarakat malas ke gerai ritel konvensional.