Kasus Pembakaran Bendera di Garut By Design
- VIVA/Dhana Kencana
Tapi HTI keukeuh menyatakan yang dibakar itu bukan bendera mereka?
Dari awal mereka memang tidak beritikad baik. Dalam bahasa saya mereka berusaha memanipulasi kesadaran publik. Kita lihat statement Ismail Yusanto di Twitter. Dia bilang itu bukan bendera HTI, HTI tidak punya bendera. Ini kan seperti mau menggiring umat Islam untuk marah, bahwa yang dibakar itu bukan bendera HTI, tapi bendera tauhid milik umat Islam.
Menurut Anda kenapa respons masyarakat sangat cepat?
Nah itu yang saya juga cari tahu. Kita menemukan beberapa indikasi yang kita anggap agak aneh dan sepertinya ini sudah dipersiapkan dengan matang sebelumnya.Â
Aneh gimana?
Misalnya, kita menemukan puluhan video di YouTube yang merespons kejadian di Garut itu dan itu beberapa saat setelah kejadian itu terjadi. Jadi waktu itu sekitar jam 15.00 kejadian, nah jam 18.00 itu sudah banyak beredar video, bahkan puluhan video. Dengan grafik atau kualitas gambar yang bagus. Jadi bukan seperti video kita bikin vlog, tapi ini dengan kualitas gambar yang sangat bagus.Â
Artinya?
Ini seperti sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Dugaan kita seperti itu. Tapi tentu kita tidak mau berspekulasi. Kita serahkan semua ini kepada aparat Kepolisian untuk menyelidiki lebih jauh kasus ini. Ada apa sebenarnya di balik kasus ini. Aparat harus membongkar itu semua. Karena indikasi-indikasi bahwa ini dilakukan secara sistematis sudah terlihat sangat jelas.
Ansor dan polisi mengatakan itu bendera HTI. Tapi MUI menyatakan itu bendera tauhid?Â
Iya. Ini kan soal persepsi saja. Kita menghargai persepsi MUI yg menyatakan bahwa itu bendera tauhid. Muhammadiyah juga mengatakan seperti itu, itu silakan saja. Tapi kita juga berharap bahwa apa yang menjadi persepsi itu juga berdasarkan dokumen dan data yang mendukung.Â
Kami mempunyai keyakinan bahwa itu adalah bendera HTI dengan didukung oleh data dan fakta yang kami miliki. Jadi tolong ini juga dihargai. Jadi kita sama-sama menghargai apa yang kita yakini. Toh kita juga tidak memaksa MUI atau Muhammadiyah untuk percaya dengan apa yang kami yakini. Makanya ketika MUI dan Muhammadiyah meminta kami untuk meminta maaf, kami bertanya dulu.