Kisah Misteri Jenazah Marsma TNI Iswahyudi Hilang di Tanjung Hantu

VIVA Militer: Marsma TNI (Anumerta) R. Iswahyudi
Sumber :
  • Youtube

VIVA – Bangsa Indonesia akan senantiasa mengingat sosok seorang Marsekal Pertama (Marsma) TNI Raden Iswahyudi. Ya, ia adalah salah satu dari sekian banyak Pahlawan Nasional Indonesia yang punya jasa besar dalam Perang Kemerdekaan, sekaligus perintis berdirinya Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU).

Dalam data yang diperoleh VIVA Militer dari situs resmi TNI AU, Iswahyudi adalah salah satu tokoh perintis TNI AU. Bersama beberapa sosok lainnya seperti Marsekal Muda TNI (Purn.) Halim Perdanakusuma dan Marsekal Muda (Anumerta) Agustinus Adisutjipto, Iswahyudi adalah generasi awal pasukan Indonesia di matra udara.

Menurut data yang dikutip VIVA Militer dari buku "Mengenal Pahlawan Indonesia" karya Arya Ajisaka (2008), Iswahyudi pernah menempuh pendidikan bidang kedokteran sebelum pada akhirnya punya ketertarikan dalam dunia penerbangan.

Iswahyudi memutuskan berhenti dari sekolah kedokteran di Surabaya pada 1941, dan mendaftar ke Sekolah Perwira Militer yang dikelola Belanda, (Militaire Luchtuaart Opleiding School), di Kalijati, Jawa Barat. Hebatnya, saat lulus ia menerima Klein Militair Brevetm atau Lisensi Pilot Junior dengan predikat terbaik.

VIVA Militer: Marsma TNI (Anumerta) Iswahyudi dan keluarganya

Menjadi lulusan terbaik, Iswahyudi mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan lanjutan ke Australia. Pergolakan yang terjadi di Indonesia membuatnya tak betah di Australia, dan ingin membantu perjuangan negaranya menentang penjajah.

Kobaran api semangat membela tanah air membuat Iswahyudi menjalani perjalanan pulang dari Australia, dengan hanya menggunakan perahu karet. Terjangan ombak Samudera Pasifik tak membuat nyali Iswahyudi ciut, hingga akhirnya berhasil pulang.

Dalam data lainnya yang didapat VIVA Militer dari buku "Jejak-jeak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia" (2007), Iswahyudi diceritakan ikut mengamankan kota kelahirannya, Surabaya, dalam peristiwa Pertempuran Surabaya, 10 November 1945, pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945.

KSAD Dudung ke Anak Buah: Jangan Pernah Menyakiti Hati Rakyat

Pada akhirnya, Iswahyudi bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan cikal bakal TNI. Dalam kesatuan TKR, Iswahyudi masuk dalam kesatuan Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan yang berbasis di Yogyakarta.

VIVA Militer: Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Peristiwa Haru di Aceh, Letnan Samsul Yadi Tinggalkan TNI

Kisah kehebatan sosok Iswahyudi juga diceritakan dalam buku "Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950", yang ditulis oleh Soewito, Hadi H. N., Suyono, Nana Nurliana, Suhartono, dan Soedarini (2008). Dalam buku itu dikisahkan, di bawah instruksi Komodor Udara (setara Brigadir Jenderal) Iswahyudi mampu terbang sendiri hanya dalam waktu tiga minggu.

Pada 7 Februari 1946, Iswahyudi bersama Imam Suwongso (pensiun Marsekal Muda TNI), ditunjuk sebagai instruktur terbang TKR Jawatan Udara. Bersama dengan Komodor Udara Suryadi Suryadarma dan Mayjen Sudibyo, Iswahyudi juga pernah ikut dalam negosiasi pengembalian tahanan perang dengan Sekutu.

Keren, Ranpur Marinir Disulap Jadi Mobil Pintar di Papua

Sekitar Desember 1947, Iswahyudi mendapat tugas untuk terbang ke Bangkok besama Komodor Udara Halim Perdanakusuma. Target misi itu adalah membangun hubungan dengan pemerintah Singapura dan kesepakatan dengan pedagang senjata juga di Singapura.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Dalam perjalanan pulang kembali ke tanah air, pesawat Avro Anson RI-003 yang ditumpangi oleh Iswahyudi dan Halim jatuh di Tanjung Hantu, Perak, Malaysia. Banyak yang menduga bahwa pesawat yang ditumpangi Iswahyudi dan Halim mengalami kerusakan struktural. Akan tetapi, ada pula yang menyebut bahwa pesawat nahas itu jatuh karena ditembak pesawat Belanda.

VIVA Militer: Avro Anson RI-003 yang ditumpangi Iswahyudi di Bukit Tanjung Hantu

Iswahyudi dan Halim dinyatakan tewas akibat insiden itu. Setelah dilakukan pencarian, jenazah Halim akhirnya ditemukan. Namun, jenazah Iswahyudi yang meninggal dunia di usia yang baru menginjak 29 tahun, tak pernah ditemukan hingga proses pencarian berakhir, dan hingga saat ini.

Setelah meninggal dunia, Iswahyudi pun mendapat kenaikan pangkat menjadi Komodor Udara, atau saat ini Marsekal Pertama TNI. Sebagai penghargaan dan untuk mengingat sosok luar biasa Iswahyudi, pemerintah Indonesia menyematkan namanya di Lapangan Terbang Iswahyudi, Madiun, pada 10 November 1960.

Kemudian pada Juli 2020, TNI AU juga mengabadikan sosok Iswahyudi dalam nama sebuah jalan raya, Jalan Marsma TNI (Anumerta) Iswahyudi. Jalan sepanjang 8,6 kilometer yang menghubungkan Kabupaten Magetan dan Kabupaten Madiun itu, diresmikan Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) ke-22, Marsekal TNI Yuyu Sutisna.

BACA: Sepak Terjang Jenderal Terganas Amerika Lawan Panglima Pahlawan China

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya