Gundala Baru yang Mengejutkan

Poster Film Gundala
Sumber :
  • Screenplay Films

VIVA – Sancaka berlari ke dataran tinggi ketika hujan turun deras suatu hari. Hatinya gundah setelah putus cinta dari sang kekasih. Seketika, petir menyambarnya, membawanya ke Raja Petir, Kaisar Kronz. 

Sebuah liontin diberikan untuknya, membuatnya bisa berubah menjadi sosok superkuat, Gundala. Mengeluarkan petir dari telapak tangan adalah kekuatannya. Sancaka pun resmi disebut Gundala Putra Petir setelah Sang Kaisar mengangkatnya sebagai anak.

Potongan kisah itu merupakan cerita awal Gundala dalam komiknya, Gundala Putra Petir, yang dibuat oleh Harya Suraminata atau Hasmi. Selama 13 tahun, sejak 1969 hingga 1982, Hasmi sudah menghasilkan 23 judul komik jagoan petir tersebut.

Gundala pernah difilmkan pertama kali pada tahun 1981 yang diperankan oleh Teddy Purba di bawah arahan Lilik Sudijo. Rencana penggarapan film barunya juga pernah diumumkan di tahun 2014 dengan Hanung Bramantyo sebagai sutradaranya. Namun proyek itu gagal dan beralih ke tangan dingin Joko Anwar.

Di bawah payung Screenplay, BumiLangit Studio, dan Legacy Pictures, Gundala siap hadir dengan versi baru. Setelah menutup rapat kabar proses produksi, kemarin, Minggu, 28 Oktober 2018, tim produksi akhirnya melepas teaser dan penampilan perdana Gundala, begitu juga dengan aktor pemerannya, Abimana Aryasatya.

Sambutannya positif. Poster, teaser, sampai sejumlah cast yang diungkap dianggap menjanjikan. Di media sosial, Joko Anwar dan tim pun banjir pujian. Banyak yang menyebut, semua yang disuguhkan mengejutkan, tak seperti yang dibayangkan. Seperti apa rencana film Gundala di tangan Joko Anwar?

Look dalam Komik dan Film

Joko Anwar umumkan Abimana Aryasatya sebagai Gundala

Proses pengambilan gambar film Gundala masih berlangsung sampai saat ini. Hingga perilisan teaser perdana di panggung Indonesia Comic Con 2018 kemarin, Joko Anwar mengatakan, proses shooting sudah masuk hari ke-48 dari 55 hari yang dijadwalkan.

Penggemar Bumilangit Kini Punya Rumah Resmi

Teaser dan penampilan perdana Gundala mengejutkan, sebab cukup berbeda dari komiknya. Joko Anwar memang mengakui, tak mau membuat Gundala sama persis dengan setting di komik, tapi juga tidak mau mengubah jadi asing sepenuhnya. Cerita yang dihadirkan, menurut Joko, harus bisa disesuaikan dengan kondisi masa sekarang.

"Kita mencoba mempertahankan elemen dasar dari Gundala yang asli. Karena aku besar dengan komik Gundala, makanya aku tidak mau mencoreng komik Gundala menjadi tidak dikenal. Dasar tetap dipertahankan, tapi tetap harus kita upgrade," kata sutradara berusia 42 tahun itu.

Abimana Ungkap Kejutan Seru Serial Serigala Terakhir

Meski belum diungkap banyak, berikut beberapa hal tentang Gundala yang sudah diketahui hingga saat ini.

1. Sancaka

Sekuel Serigala Terakhir Hadir dalam Bentuk Serial

Abimana Aryasatya sebagai Sancaka atau Gundala

Versi komik, Sancaka, diceritakan sebagai seorang ilmuan yang bereksperimen mencari anoda atau serum antipetir untuk menolong orang-orang agar tak terluka ketika disambar petir. Teaser perdana filmnya belum mengungkap utuh profesi alter ego Gundala ini, namun Sancaka terlihat mengenakan seragam petugas keamanan.

Yang pasti, Joko Anwar menjelaskan, karakter Sancaka atau Gundala tidak dibuat seperti jagoan yang tanpa cela. "Dia seseorang yang rapuh," katanya. Alasan itu pula yang membuatnya menggaet Abimana sebagai pemeran utama.

"Gundala harus diperankan seseorang yang harus punya talenta kuat, karakternya kuat dan harus ada kerapuhan dalam dirinya. Dan aku menemukan itu di Abimana," ujarnya lagi.

2. Karakter Pendukung

Kru dan pemain Film Gundala

Joko Anwar menjelaskan, ada banyak karakter yang akan dihadirkan di film ini, jumlahnya sekitar puluhan. Beberapa di antaranya juga diperankan oleh artis baru. Namun selain Abimana yang akan memerankan Sancaka (Gundala), beberapa yang sudah diungkap antara lain Merpati, Pengkor, dan Sancaka kecil.

Merpati atau Wulan diperankan oleh Tara Basro yang sudah sekian kali kerja bareng Joko Anwar. Dalam komiknya, Merpati ini adalah istri Gundala yang baru diceritakan di episode belasan. Sementara Joko mengatakan, karakter alter ego Merpati, Wulan adalah mantan aktivis yang tidak bisa melihat orang tertindas.

Pengkor diperankan oleh Bront Palarae yang juga sudah pernah bekerja sama dengan sang sutradara di Pengabdi Setan. Andy Wijaya, Commercial General Manager BumiLangit Entertainment Corpora, kepada VIVA, menceritakan, Pengkor dalam komiknya sebenarnya adalah orang baik pada mulanya. Karena kerap dituduh dan di-bully, Pengkor berubah jadi jahat sungguhan.

Sementara yang cukup mengejutkan adalah kehadiran Sancaka kecil (diperankan Muzakki Ramdhan) yang tak diceritakan di komiknya. 

"Dalam origins komik Gundala diceritakan sedikit latar belakang Gundala. Kita akhirnya mendapatkan catatan kecil milik Pak Hasmi yang beliau tinggalkan dan menginkorporasikan background Gundala dan dimasukkan di film ini," ujar Joko Anwar menjelaskan.

3. Kostum

Gundala dikenal sebagai jagoan yang pakai kostum biru bertopeng, celana dalam merah di luar, dan bentuk mirip sayap di bagian kupingnya. Kostum itu sendiri diperolehnya dari Kerajaan Petir lewat liontin yang jika dibuka, kostum tersebut langsung melekat di tubuhnya.

"Beberapa kali dia digambarin, ketika dia buka liontinnya, keluar asap dan tiba-tiba dia sudah berubah jadi Gundala," kata Andy bercerita kepada VIVA.

Untuk versi film, Joko Anwar melakukan sejumlah perubahan, dengan tujuan lebih realistis dan masuk akal. Meski baru mengungkap penampilan bagian atas Gundala, namun Joko menyebut, akan melepas celana dalam merah yang dipakai di komiknya.

"Kita membuat film Gundala yang realistis, enggak yang tiba-tiba kostumnya datang dari langit. Semuanya dibikin make sense. Pertama yang kita take away adalah celana dalamnya, karena itu enggak compatible ya," ujar Joko Anwar dalam acara Indonesia Comic Con, Senin, 29 Oktober 2018.

Gundala memang tak melepas kuping yang seperti sayap, namun bahannya dibuat lebih mirip dari baja. Sementara itu, Gundala versi film juga menggunakan kacamata goggles, tidak hanya topeng saja.

"Nanti bisa dijelaskan di filmnya. Kenapa dia menggunakan kuping, menggunakan goggles, dan kenapa menggunakan mask," kata Joko menambahkan.

BumiLangit Revolusi

Poster film Gundala.

Kehadiran film Gundala sebagai jagoan super asli dari Indonesia memang jadi harapan baru untuk dunia perfilman Tanah Air. Gundala diharap bisa jadi pintu untuk munculnya film-film jagoan dari bumi Nusantara. 

BumiLangit yang menjadi rumah Gundala memang tak menampik, ingin menghidupkan lebih banyak karakter jagoan lainnya. Di komiknya, BumiLangit punya BumiLangit Revolusi yang merupakan proyek universe para karakter super mereka.

"Di sana kami me-remake, reboot, membuat ulang cerita dari karakter-karakter dan kita gabungkan. Dulu kan kita buat jagoan-jagoan, silat-silat, sendiri-sendiri. BumiLangit Revolusi ini kita buat komiknya agar mereka bisa bertemu. Kenapa sih mereka dari yang beda-beda bisa ketemu," Andy menjelaskan.

Di BumiLangit Revolusi, sejumlah karakter yang muncul antara lain Sri Asih, Maza, Si Buta, Mandala, dan sebagainya. Ceritanya sudah digarap dan bisa dibaca gratis di Facebook BumiLangit.

Namun terkait filmnya, sejauh ini belum bisa mengungkap rencana ke arah tersebut. Adaptasi dari komik ke film ini akan berada di bawah BumiLangit Cinematic Universe.

"Nanti untuk sinema ada universe-nya sendiri dan belum tentu sama dengan komik. Jadi masing-masing beda. Kadang kan memvisualisasikan komik ke film itu susah. Kalau komik bikin ledakan-ledakan gampang, kalau film kan mungkin mahal," ujarnya lagi.

Harapan untuk kesuksesan Gundala ini pun begitu besar. Apalagi, penonton begitu terbuai dengan film-film superhero besutan Hollywood yang kian menggema. Namun Andy mengingatkan, tak pas jika harus membanding-bandingkan dengan film superhero Hollywood. Itu juga salah satu alasan Andy lebih suka menyebut Gundala sebagai jagoan bukan, superhero.

"Superhero patokannya DC, Marvel, padahal enggak apples to apples. Biaya dan lain-lain kan jauh," serunya.

Indonesia patut berbangga. Teaser yang disajikan Joko Anwar dan timnya tentu terasa menjanjikan. Bukan hanya dari urusan visual, tapi juga kekuatan ceritanya. Mari menanti, semoga filmnya benar-benar memuaskan saat rilis tengah tahun 2019 mendatang.(hd)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya