Diksi Kontroversi ala Petahana
- ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
"Bagaimana menjelaskan agar bisa diterima. Jangan tutup mata dengan yang bagus di era Jokowi," tutur Maman yang juga politikus PKB itu.
Baca: Sebut Buta dan Budek, Ma'ruf Dinilai Cederai Penyandang Disabilitas
Pakar komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mengkritik ucapan Ma'ruf yang terkesan emosional. Dalam kampanye, seharusnya kubu petahana cukup dengan strategi mengklaim keberhasilan dan bertahan tanpa perlu menyerang berlebihan.
"Tapi, petahana ini terlalu merespons attack sekali. Emosional ini, balasannya tidak positif. Tidak perlu sampai berkata itu," ujar Hendri kepada VIVA, Senin, 12 November 2018.
Hendri melihat pasangan nomor urut 01 itu terjebak dengan membalas dengan istilah yang kurang positif. Menurutnya, diksi buta, budek, sontoloyo, sampai genderuwo tak layak disampaikan seorang capres atau cawapres.
"Ini kan biasa kritikan di negara demokrasi. Cukup defense dan klaim keberhasilan, kan ada juga figur yang berhasil tapi enggak mau ngomong," tuturnya.
Negarawan dan Pengayom
![]()
Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno menyinggung agar dua pasangan kandidat menghindari istilah tak penting dan tak ilmiah. Menurutnya, dalam kampanye semestinya, dua pasangan yang bersaing ini bisa memperlihatkan sikap mengayomi.
"Bicara budek, buta disayangkan lah keluar dari cawapres. Harusnya ini cukup di level tim sukses lah. Capres, cawapres itu harus negarawan, hindari diksi gaduh, kotor berpotensi bikin ramai," tutur Adi kepada VIVA, Senin, 12 November 2018.
Adi menekankan, dua kandidat pasangan harus bisa menyampaikan program positif secara substansi. Bukan perang pernyataan yang justru jadi gaduh. Ia menyebut seperti misalnya persoalan ekonomi yang menjadi panggung dua pasangan beradu konsep.
"Jangan remeh temeh diksi ini yang dimakan publik. Bagaimana misalnya isu tempe setipis ATM. Kubu Jokowi respons pakai data. Kalau begini kan mendingan," kata Adi.
Baca: Kubu Jokowi-Ma'ruf: Kaum Buta dan Budek Ada di Alquran
Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin mengatakan, agar tak semakin liar, ada baiknya Ma'ruf Amin langsung memberikan klarifikasi. Menurutnya, tak ada salahnya bila Ma'ruf berkenan menyampaikan permohonan maaf. Ia khawatir ucapan Ma’ruf menjadi bola panas karena membuat kaum difabel tersinggung.