Terkepung Industri Musik Digital
- Pixabay
"Sebenarnya yang krusial itu dalam musik seperti apa yang diterima kontennya, gimana promosinya, managing artisnya. Kita punya komitmen hasil karya yang berkualitas, filosofi sendiri dalam bermusik yang enggak sekadar ikut-ikutan. Secara kualitas bisa dipertanggungjawabkan dan secara komersil pun demikian," ujarnya.
Warner pun mengakui jika era digital membuat strategi marketing berubah dengan persaingan yang lebih ketat. Tantangannya, materi atau musik sudah tidak bisa memetakan pasar.
"Sekarang market benar-benar bebas memilih, streaming mau lagu, musik gamelan, EDM, ada semua. Market yang memilih, kita cuma menyediakan barang saja," terang perwakilan Warner.
Seperti semua pihak mengatakan, era digital adalah era yang menggairahkan untuk konten-konten kreatif, termasuk musik. Ketika muncul pertanyaan, bagaimana bisnis musik digital ke depannya, Bens Leo menerangkan, musik adalah seni dan yang namanya seni budaya tidak bisa diprediksi.
"Kita enggak tahu kalau ternyata RBT berhenti. Dulu kan tiap ada yang nelepon ada lagu, sekarang enggak. Kita enggak pernah tahu kapan hilangnya. Apakah nanti digital akan hilang dan analog muncul lagi? Kita enggak tahu. Seperti piringan hitam yang mulai muncul lagi di tahun 2010-2011, orang rindu dengan itu," ujar mantan jurnalis musik tersebut.
Baginya, semua adalah siklus musik yang terus berjalan. Semua orang harus siap, karena seni budaya itu selalu berubah. Tampil dengan kreatif dan berkualitas adalah kunci semua pelaku industri ini agar bisa bertahan dan mengikuti perkembangan zamannya. (umi)