'Ada Idealisme dan Pesan di Tiap Konser Saya'
- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Iya, saya sempat bikin Pentatonix, menarik. Saya dikontak agen dari luar negeri dan diminta nonton acapella. Saya bilang gimana kalau Pentatonix ke Indonesia? Begitu saya ambil Februari, Mei dapet Grammy Awards, begitu saya jual 4.000 tiket sold out. Setelah Pentatonix saya bikin Kenny G, Prambanan Jazz pertama, David Foster, juga Boyz to Men.
Anda juga membuat gelaran bertajuk MocoSik. Bisa dijelaskan?
Kalau MocoSik lebih kepada representasi hidup saya. Saya pernah dibesarkan di buku dan dijatuhkan di buku. Saya merasa punya utang budi di dunia buku. Saya ingin berbagi pesan. Saya merasa musik bisa menyampaikan pesan. Sekarang kan buku sudah ditinggalkan, saya punya kewajiban, ini lho ada peradaban buku, marilah sejenak kita lihat, moco sik. Saya bikin konser musik tiketnya dari buku. Di luar dugaan, apresiasi publik sangat tinggi. Padahal persiapan kami cuma dua bulan. Seharusnya festival itu enam bulan.
Setelah Dream Theater, dalam waktu dekat siapa musisi yang akan didatangkan?
Saya pengen datengin Andrea Bocelli, Norah Jones, dan Diana Adele. Saya juga pengen mendatangkan Coldplay, tapi agak susah.
Kenapa?
Saya melihat ini ada politik internasional, ada dealing antara Singapura dan manajemen mereka, ini yang tidak banyak orang tahu. Bahwa artis itu dipegang oleh agen, tidak boleh kita direct ke manajemen artisnya. Mereka tahu pasar terbesar adalah Indonesia, 90 persen. Kalau Coldplay ke Indonesia, Singapura bisa sepi, itu dugaan saya.
Apakah Indonesia tidak punya posisi tawar?
Indonesia tidak punya kekuatan untuk melakukan itu. Promotor tidak punya asosiasi, tidak punya kekuatan penuh, kita direct langsung ke agen. Harusnya pemerintah dukung, Bekraf bergerak, seperti Joy Alexander enggak bisa kita apa-apain.
Kalau kita berkaca dengan negara-negara lain, ada festival musik gratis, pemain atau musisinya terkenal, artis dunia tapi gratis, negara yang menfasilitasi, yang bayar negara. Kejadian Coldplay kemarin membuka mata orang-orang pemerintahan, ada banyak sekali orang-orang Indonesia kesedot ke sana. Coba bayangkan ada berapa banyak uang dari orang Indonesia yang ke sana. Harusnya pemerintah menangkap itu, pemerintah duitnya banyak, asetnya ribuan triliun, masa enggak bisa bawa mereka.