Fakta di Balik Klaim Zionis Israel sebagai Korban Terorisme

Source : Republika
Source : Republika
Sumber :
  • republika

photo
Tentara Israel mengendarai kendaraan militer selama latihan di Dataran Tinggi Golan yang dikontrol Israel di dekat perbatasan dengan Suriah, Selasa (4/8/2020). - (AP / Ariel Schalit)

Pada  1956, saat menjabat sebagai komandan jalur Matla perbatasan Israel dan Gurun Sinai Sharon berhasil menangkap 300 tentara Mesir. Lalu, para tawanan itu diperintahkan bertiarap dan dilindas dengan tank.

Deklarasi Balfour (1948) menyebabkan wilayah Palestina terbagi tiga. Pertama, negara Yahudi mencakup 57 persen dari total wilayah Palestina dan meliputi hampir seluruh wilayah yang subur, dengan perimbangan penduduk 498.000 Yahudi dan 497.000 Arab. Kedua, Negara Arab Palestina mencakup 42 persen dari total wilayah Palestina dan hampir seluruh wilayahnya tandus dan berbukit-bukit. Perimbangannya, 10.000 Yahudi dan 725 ribu Arab.

Ketiga, zona internasional (Jerusalem) dengan perimbangan penduduk 100.000 Yahudi dan 105.000 Arab. Pada 1922, sekitar 26 tahun sebelum resolusi PBB, ketika Mandat Inggris dari Liga Bangsa-Bangsa, penduduk Arab Palestina berjumlah 668.000 orang dan menguasai 98 persen wilayah Palestina. Sedangkan, penduduk Yahudi yang berjumlah 84.000 orang hanya menguasai dua persen tanah Palestina.

Dalam sebuah wawancara dengan koran Yediot Aharonot, 26 Mei 1974, Ariel Sharon menyatakan: Kita harus selalu menyerang, menyerang, tanpa berhenti. Kita harus menyerang mereka di mana pun adanya. Di dalam negeri, di negeri Arab, dan bahkan di seberang lautan sekalipun. Semuanya pasti akan dapat dilakukan.”

Robert Garaudy memaparkan bahwa tokoh-tokoh Zionis Israel, baik yang tergabung dalam Partai Likud, Partai Buruh, atau partai politik lainnya, merupakan tokoh-tokoh teroris. Sebut saja nama Simon Perez, Presiden Israel saat ini. Perez adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pembantaian lebih dari 2000 warga Palestina yang dilakukan oleh pasukan Palangis Kristen Lebanon.