Seorang Wanita Jambi Gugat Suami karena Ternyata Sesama Jenis

Seorang wanita di Jambi gugat suami karena ternyata sesama Jenis
Seorang wanita di Jambi gugat suami karena ternyata sesama Jenis
Sumber :
  • VIVA/Syarifuddin Nasution

VIVA – Sungguh malang nasib seorang wanita asal Jambi. Selama 10 bulan nikah siri, Nur Aini (22) baru menyadari bahwa suaminya ternyata juga berjenis kelamin perempuan seperti dirinya.

Merasa ditipu, Nur Aini pun menggugat suaminya ke Pengadilan Negeri Jambi dengan tuduhan melakukan penipuan kepadanya, serta melakukan pemalsuan gelar doktor lulusan luar negeri.

Sedangkan terdakwa mengaku bernama Ahnaf Arrafif, namun nama asli Erayani. Penipuan ini “tercium” setelah pihak keluarga curiga atas perilaku terdakwa. 

Ilustrasi pernikahan.

Ilustrasi pernikahan.

Photo :
  • U-Report

Dalam sidang perkara yang digelar di PN Jambi, Selasa 14 Juni 2022, Nur Aini memberikan kesaksian bahwa dirinya tidak mengetahui suaminya berjenis kelamin perempuan. "Saya sudah berhubungan badan layaknya suami istri, namun saya tidak tahu kalau suami saya adalah sesama jenis dengan saya," ujarnya. 

Di hadapan Majelis Hakim yang diketuai oleh Alex Pasaribu dan didampingi 2 orang Hakim Anggota, Nur Aini mengatakan dirinya kenal dengan Ahnaf sejak bulan Mei 2021 lalu melalui aplikasi Tantan yang dikenalkan oleh temannya untuk mencari jodoh melalui aplikasi. Ahnaf mengaku sebagai Dokter Spesialis Bedah Syaraf.

"Saya kenal sejak bulan Mei tahun 2021 dan nikah tanpa melalui KUA (nikah siri)," jelasnya 14 juni 2022.

Nur Aini menyebutkan, saat ia nikah siri dengan terdakwa Ahnaf alias Erayani sempat dijauhkan dari kedua orang tua kandung selama 10 bulan dan iapun tinggal berdua. 

"Saya tidak pernah curiga kalau suami saya adalah seorang perempuan, karena saya sudah pernah dikenalkan melalui video call dengan keluarganya," katanya.

Nur Aini, mengatakan, pernah mengeluarkan uang sekitar Rp30 juta untuk Annaf namun ia tidak tahu buat apa. Tidak sampai di situ, ia juga pernah dibawa ke tempat ibu angkat suaminya itu selama satu bulan hanya saja ia disuruh tinggal di kamar saja. 

"Saya merasa heran saja saat itu, buat apa uang sebanyak Rp30 juta, dan dia hanya mengaku bahwa dia seorang spesialis bedah syaraf dokter," jelasnya.