SOROT 419

Negeri Rawan Bencana

Warga mengangkut barang dari rumah yang terkena banjir bandang di Garut
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

VIVA.co.id – Selasa malam, 20 September 2016, menjadi hari yang tak terlupakan bagi Ghea Pradina. Pria yang sehari-hari menjadi konsultan teknologi informasi ini harus kehilangan empat anggota keluarganya saat bencana banjir bandang menghantam tujuh kecamatan di Garut, Jawa Barat.

img_title 71.744 Sekolah Jadi Sasaran Revitalisasi 2026, Pemerintah Utamakan yang Rusak Berat hingga 3T

Ghea kehilangan istri, Wellis N. Rahayu; anaknya yang masih berusia dua bulan, Masayu Kalea Pradina; serta kedua mertuanya, Y. Suryana dan Win Sukaningsih. Bahkan jenazah Kalea dan Suryana termasuk 18 korban yang dinyatakan hilang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain empat anggota keluarga, rumahnya juga hanyut saat gelombang air menerjang Kampung Lapangan Paris, Desa Sukakarya, Kecamatan Tarogong Kidul, sekitar pukul 22.00 WIB.

img_title Di Tengah Bencana yang Melanda Tanah Air, Doa Bersama Jadi Bentuk Solidaritas Masyarakat

Sebulan setelah peristiwa itu, VIVA.co.id menemui Ghea di tempat pengungsian, Kamis, 20 Oktober 2016. Emosinya sudah lebih tenang, walaupun kedua matanya masih terlihat menerawang dan berharap keluarganya yang hilang bisa ditemukan selamat.

Ghea menuturkan, saat peristiwa itu terjadi, dia sedang berada di Cirebon untuk melaksanakan tugasnya sebagai konsultan. Tak ada firasat mengenai datangnya bencana ini. "Saat saya tidur, saya gelisah. Hingga akhirnya kabar bencana saya terima Rabu pagi (21 September 2016) yang disampaikan paman saya, " ujarnya.

img_title Boni Hargens Ungkap Peran Polri Sebagai Katalisator Keamanan: Bangun Relasi terhadap Masyarakat

Selepas itu, dia bergegas menuju Garut. Sekitar pukul 06.30 WIB tiba di Kampung Paris, Ghea termenung menyaksikan tanah tempat rumahnya biasa berdiri, kini menjadi tumpukan puing. Tak ada lagi anggota keluarga yang senantiasa menyambut hangat ketika dia pulang.

"Padahal saya terakhir berkomunikasi dengan istri saya, Selasa pagi saat akan berangkat bekerja, melalui pesan BBM," ujarnya menambahkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selepas itu, dia berusaha mengumpulkan informasi dan mencari keluarganya. Satu-satu dia hampiri berbagai posko yang tersebar di tujuh kecamatan terdampak. Hingga akhirnya, jenazah istri dan ibu mertuanya ditemukan sudah meninggal dunia. Namun keberadaan anak dan bapak mertuanya masih misteri.

Sebagai korban, Ghea berhak atas beragam bantuan, baik logistik maupun sosial. Dia sudah menerima hak itu, termasuk santunan dari Kementerian Sosial sebesar Rp15 juta untuk dua korban meninggal yang jenazahnya sudah ditemukan. "Kalau yang dua hilang memang belum ada santunan," ucap Ghea.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut