- bbc
Tapi Al Chaidar mengaku tak paham mengapa ada anak-anak dalam aksi di Surabaya. Ia mengaku sering melakukan penelitian tentang keluarga teroris. Menurutnya, biasanya rasa sayang orangtua kepada anak sangat besar sekali. "Bahkan mereka secara dunia itu betul-betul itu hidupnya untuk anak mereka, bahkan biasanya mereka itu saking protektifnya terhadap anak itu, anak mereka itu tidak boleh disekolahkan di tempat yang lain," ujarnya menambahkan.
Aktivitas bersama keluarga itu sangat penting, ujar Al Chaidar, sehingga mereka itu lebih menginginkan banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya. Jadi setelah pulang sekolah itu biasanya anak-anaknya itu langsung diambil oleh orangtuanya. Dan biasanya mereka tak pernah marah pada anak-anaknya.
Pria yang banyak menulis buku mengenai terorisme ini mengakui, bahwa pelibatan perempuan dalam aksi teror sudah banyak terjadi di luar negeri. "Di Palestina malah sudah dilakukan sejak 1995-1996, kalau tak salah," tuturnya.
Serangan bom yang dilakukan bersama oleh suami-istri juga sudah banyak dilakukan di Suriah. Tapi melibatkan anak bagi Al Chaidar, baru sekali ini ia dengar. "Kalau anak dipersiapkan atau dilatih untuk memegang senjata, menembak, itu sudah banyak. Tapi kalau untuk amaliyat itu belum ada. Kalau untuk idad (pelatihan) itu banyak, dan itu biasa lah. Tapi kalau untuk melakukan amaliyat saya rasa baru kali ini, dan itu sangat mengejutkan," ujarnya menjelaskan.
Ia bahkan mempertanyakan ayat dan hadist yang digunakan para pelaku untuk membawa serta anak-anak mereka. "Ayatnya apa, hadistnya apa? Itu tidak ketemu. Fatwanya pun, mungkin ada fatwa dari ulama, itu tidak ada fatwanya untuk anak-anak berjihad melakukan bom bunuh diri itu, tidak ketemu kita itu. Itu aneh sekali," ujarnya mempertanyakan.
![]()
Al Chaidar menengarai, ada beberapa hal yang menjadi alasan, mengapa kini anak-anak dilibatkan. Pertama, ia menduga ini adalah semacam pesan yang ingin disampaikan pada Amerika, Israel, Rusia, dan negara-negara maju lainnya yang menyerang anak-anak di Afganistan, Suriah, Irak, Palestina dan lain sebagainya. Mereka ingin menyatakan kepada negara-negara maju itu bahwa anak-anak mereka bisa melakukan atau menuntut balas. Hanya saja, kejadiannya di Suriah, tapi menuntut balasnya di Indonesia.