- bbc
Itu sebabnya, ketika nama Dita dan keluarganya mencuat sebagai pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya yang meledak pada Minggu pagi, 13 Mei 2018, tetangga sangat kaget. Apalagi, Dita mengajak seluruh keluarganya, termasuk istri dan dua anak perempuannya untuk ikut beraksi.
Aksi mengebom bersama keluarga ternyata tak hanya dilakukan Dita. Minggu malam, di rusunawa di wilayah Wonocolo juga terjadi ledakan. Tiga orang meninggal dunia, mereka adalah bapak, ibu, dan satu anaknya. Satu anak lain selamat dan kini masih dalam perawatan di rumah sakit. Polisi mengatakan, keluarga tersebut tewas oleh bom rakitan mereka sendiri.
Senin, 14 Mei 2018, satu keluarga yang berboncengan menggunakan dua motor juga melakukan hal yang sama. Rombongan yang terdiri dari bapak, ibu dan tiga anak ini mencoba menerobos pintu gerbang Mapolrestabes Surabaya. Namun mereka dihentikan di pintu masuk. Tak lama bom meledak, empat orang pembawa bom tewas. Tapi salah seorang anak perempuan ternyata selamat setelah sempat terlontar.
![]()
Aksi Dita dan dua keluarga lain membuat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menangis tak berhenti. Risma mungkin tak pernah menduga, kota yang ia bangun dengan penuh harapan dan cinta itu menjadi sasaran aksi terorisme. Ia lebih terluka lagi ketika tahu bahwa para pelaku mengajak serta anak-anak mereka dalam aksinya.Â
Anak dalam Lingkaran Terorisme
Pelibatan anak-anak dalam aksi terorisme yang terjadi di Surabaya memunculkan kengerian baru. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengaku sangat prihatin. "Pelibatan anak-anak baru pertama di Indonesia. Memprihatinkan," ujar Tito.
Menurut Tito, serangan bom menggunakan perempuan dan anak-anak selama ini kerap dilakukan oleh kelompok militan ISIS atau Negara Islam Irak dan Suriah. Pola yang terjadi di Indonesia, ujar Tito, menunjukkan adanya keterkaitan antara jaringan militan di Indonesia dengan di Irak dan Suriah.Â
![]()
Kapolri, Jenderal Tito KarnavianÂ
Pengamat terorisme Al Chaidar juga menengarai Jaringan Anshorut Daulah (JAD) memiliki kaitan dengan ISIS. "Jaringan yang lebih dominan saat ini memang ISIS yang bernama Jaringan Anshorut Daulah (JAD)," ujarnya kepada VIVA, Kamis, 17 Mei 2018.