SOROT 501

Babak Baru Terorisme 

Pengeboman di Gereja Pantekosta, Surabaya, Minggu (13/05). - AFP
Sumber :
  • bbc

Kedua, ia menduga pelaku sangat terpengaruh dengan Surat At-Tahrim (QS:66) ayat 6 yang berbunyi, "Ku anfusakum waahlikum naarra" yang artinya, "Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." Menurut Chaidar, dalam kondisi ini bisa saja orangtua beranggapan. Jika hanya orangtua yang berjihad dan kemudian meninggal, maka keluarganya tidak terurus, bahkan keluarganya itu bisa masuk neraka. Jadi mereka ingin memasukkan anak-anak itu ke dalam serangan bersama.

img_title Bocah Muslim Selamatkan 100 Orang Saat Aksi Terorisme di Moskow, Dapat Penghargaan dari Putin

Hal yang ketiga adalah karena ada kepercayaan teologis, yaitu mereka ingin masuk surga bersama. Chaidar meyakini, kepercayaan teologis yang sangat kuat itulah yang menyebabkan mereka melakukan penyerangan bersama-sama anak-anaknya. Karena mereka berkeyakinan bahwa orang yang mati karena melakukan bom bunuh diri atau jihad itu akan masuk surga. Dan mereka ingin masuk surga bersama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mantan anggota Jamaah Islamiyah, Nasir Abbas juga menyatakan keheranannya dengan aksi teror yang melibatkan anak-anak. "Ini akal-akalan mereka. Ya minimal ini modus baru. Belum pernah terjadi di dunia, di tempat konflik sekalipun, pelaku melibatkan anaknya yang umur sembilan tahun. Ini enggak pernah terjadi di belahan dunia manapun," ujarnya.

img_title Berkedok ISIS, 3 Negara Ini Dituduh Rusia Dalang Sebenarnya di Balik Aksi Terorisme di Moskow

"Anak-anak ini kan nurut sama ortu. Jadi apa saja yang diperintahkan orangtuanya, mereka akan menurut. Apa lagi kalau anaknya baru berusia sembilan tahun. Kecuali anaknya sudah berusia 20 tahun." ujar Nasir menambahkan.

Direktur Komunikasi Badan Intelijen Negara Wawan Putranto sependapat dengan Tito. Wawan menduga, aksi pelibatan anak-anak adalah meniru dari luar.  "Pola itu biasanya meniru dari luar. Misalnya mereka yang di luar sana pernah melakukan apa, di sini mereka akan mengikuti pola itu. Di sini itu dulu pernah ada yang namanya pola bom remote di bom Bali II, kemudian ada bom motor yang menabrakkan dirinya, ini meniru apa yang dilakukan di Afganistan, Pakistan. Di sana kan begitu juga pola terornya," ujarnya.

img_title Italia Juga Ikut Naikkan Status Darurat Negara jadi Waspada Usai Aksi Terorisme di Moskow

Wawan yakin, peniruan itu memang terjadi karena perubahan pola yang terjadi di sini sangat bergantung dengan perubahan atau yang terjadi di 'sana.' Jadi, ketika sekarang di sini melibatkan perempuan dan anak, itu terjadi karena 'di sana' juga sudah lebih dulu melakukannya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut