- bbc
Kedua, ia menduga pelaku sangat terpengaruh dengan Surat At-Tahrim (QS:66) ayat 6 yang berbunyi, "Ku anfusakum waahlikum naarra" yang artinya, "Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." Menurut Chaidar, dalam kondisi ini bisa saja orangtua beranggapan. Jika hanya orangtua yang berjihad dan kemudian meninggal, maka keluarganya tidak terurus, bahkan keluarganya itu bisa masuk neraka. Jadi mereka ingin memasukkan anak-anak itu ke dalam serangan bersama.
Hal yang ketiga adalah karena ada kepercayaan teologis, yaitu mereka ingin masuk surga bersama. Chaidar meyakini, kepercayaan teologis yang sangat kuat itulah yang menyebabkan mereka melakukan penyerangan bersama-sama anak-anaknya. Karena mereka berkeyakinan bahwa orang yang mati karena melakukan bom bunuh diri atau jihad itu akan masuk surga. Dan mereka ingin masuk surga bersama.
Mantan anggota Jamaah Islamiyah, Nasir Abbas juga menyatakan keheranannya dengan aksi teror yang melibatkan anak-anak. "Ini akal-akalan mereka. Ya minimal ini modus baru. Belum pernah terjadi di dunia, di tempat konflik sekalipun, pelaku melibatkan anaknya yang umur sembilan tahun. Ini enggak pernah terjadi di belahan dunia manapun," ujarnya.
"Anak-anak ini kan nurut sama ortu. Jadi apa saja yang diperintahkan orangtuanya, mereka akan menurut. Apa lagi kalau anaknya baru berusia sembilan tahun. Kecuali anaknya sudah berusia 20 tahun." ujar Nasir menambahkan.
Direktur Komunikasi Badan Intelijen Negara Wawan Putranto sependapat dengan Tito. Wawan menduga, aksi pelibatan anak-anak adalah meniru dari luar. "Pola itu biasanya meniru dari luar. Misalnya mereka yang di luar sana pernah melakukan apa, di sini mereka akan mengikuti pola itu. Di sini itu dulu pernah ada yang namanya pola bom remote di bom Bali II, kemudian ada bom motor yang menabrakkan dirinya, ini meniru apa yang dilakukan di Afganistan, Pakistan. Di sana kan begitu juga pola terornya," ujarnya.
Wawan yakin, peniruan itu memang terjadi karena perubahan pola yang terjadi di sini sangat bergantung dengan perubahan atau yang terjadi di 'sana.' Jadi, ketika sekarang di sini melibatkan perempuan dan anak, itu terjadi karena 'di sana' juga sudah lebih dulu melakukannya.