- VIVA/Yasir
Namun, menurutnya, tidak semua benda-benda berbau sejarah ini merupakan bentuk asli. Banyak artefak peninggalan HB I dan II yang hilang dibawa penguasa saat itu, Thomas Stamford Raffles dari Inggris, sehingga harus dibuat ulang. Manuskrip tersebut dibawa ke Inggris, namun tidak semuanya sampai Benua Biru. Sebab tidak sedikit kapal pembawa artefak atau manuskrip yang karam.
"Ada bendera Kanjeng Kyai Tunggul Wulung dan Kyai Pari Anom yang menyerupai surat Al Kautsar yang hanya disimpan di kotak didalam keraton dan hanya dikeluarkan setiap grebeg tahun, atau hanya dikeluarkan delapan tahun sekali. Ada 60 tiang di pegelaran Keraton Yogyakarta yang juga menunjukkan umur dari Nabi Muhammad," katanya.
Kesultanan Cirebon
Selain Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Ngayogyakarta, kerjaan Islam lain yang masih ada adalah Cirebon. Menelusuri situs www.historyofcirebon, awal pembentukan kerajaan ini dimulai dari pendirian desa Cirebon yang sebelumnya bernama Caruban-Sarumban oleh Ki Danu Sela yang kemudian dijuluki Ki Gedeng Alang-alang. Figur ini kemudian menjadi kepala desa atau kuwu pertama.
Gedeng Alang-alang menjabat sebagai Syah Bandar Pelabuhan Muara Jati kerajaan Pajajaran. Desa yang didirikanya kemudian menjadi ramai oleh para saudagar yang memang sebelumnya berlabuh di Pelabuhan Muara Jati.
Meskipun ramai, pada masa kepemimpinannya, Cirebon tidak mendapatkan perhatian serius dari pusat Kerajaan Pajajaran. Pelabuhan Muara Jati pada era itu kalah Pamor dengan Pelabuhan Cimanuk di Indramayu.
Keadaan itu berubah setelah Walangsungsang memperistri Nyai Retna Riris atau Nyai Kencana Larang yang merupakan anak dari Ki Gedeng Alang-alang. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Walangsungsang alias Cakrabuana mewarisi jabatan sebagai Kuwu Cirebon.
Pada masa pemerintahan Walangsungsang inilah, Cirebon mendapat perhatian serius dari pusat Kerajaan Pajajaran. Walangsungsang disebut sebagai seorang pangeran yang terbuang, yang terasing dari Istana, anak Parabu Siliwangi dengan Nyimas Subang Larang.
Hingga kemudian Sang Prabu mengirimkan Payung Kandaga kepada anaknya tersebut sebagai tanda bahwa Walangsungsang telah diangkat menjadi Adipati atau Penguasa pesisir utara Cirebon, dengan gelar Sri Magana. Meskipun dengan catatan, Cirebon harus mengirimkan pajak berupa trasi (penyedap rasa masakan) ke Pajajaran setiap tahunnya.