- VIVA/Yasir
Cirebon di zaman Walangsungsang bertambah terkenal setelah kedatangan ponakannya dari Timur Tengah yaitu Syarif Hidayatullah, yang tak lain juga sebagai cucu Prabu Siliwangi, dia merupakan anak nyimas Rarasantang dengan Raja Hud seorang penguasa di wilayah Banisrail (Mesir dan Palestine).
Hubungan Cirebon dengan negeri-negeri Islam di Nusantara terjalin baik berkat Syarif Hidayatullah seperti hubungan dengan Demak, Campa, Malaka dan Pasai.
Hubungan Cirebon dengan Pusat Kerajaan Pajajaran kemudian menjadi buruk setelah peristiwa perjanjian Pajajaran dan Portugis pada 21 Agustus 1522 Masehi.
Menghadapi masalah tersebut, Cirebon kemudian lebih memilih bersekutu dengan Demak menentang persekutuan Pajajaran dan Portugis. Peristiwa inilah menurut hemat penulis yang ditenggarai sebagai sebab musabab Cirebon memproklamirkan diri merdeka dari Pajajaran dan menyatakan Pendirian Kerajaan Islam Cirebon.
![]()
Kompleks Keraton Kasepuhan di Lemahwungkuk, Cirebon, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Dalam versi lain, sebagaimana tertulis dalam sejarah Kabupaten Cirebon, Cirebon memisahkan diri dari Pajajaran terjadi pada Tahun 1482 yaitu dalam tahun ke II setelah Walangsungsang menyerahkan jabatan sebagai penguasa Cirebon kepada keponakannya Syarif Hidayatullah.
Pemproklamiran Cirebon sebagai negara merdeka, didukung oleh Kesultanan Demak dan para Tumenggung dan Adipati pesisir utara Jawa yang sudah menerima Islam. Sementara itu gelar yang disematkan kepada Syarif Hidayataullah selaku Raja Cirebon adalah Kanjeng Sinuhun Jati.
Â
Selain memproklamirkan diri menjadi sebuah Kerajaan Islam yang merdeka dari Pajajaran, Cirebon juga kemudian meneguhkanya dengan perbuatan, dibuktikan mulai setelah itu kemudian Cirebon memutuskan untuk tidak lagi mengirimkan pajak tahunan berupa garam dan trasi ke Pajajaran.
Sikap tersebut kemudian direspons Pajajaran dengan mengirim sejumlah prajurit untuk menyerang Cirebon. Namun, Cirebon mampu mematahkan serangan tersebut.
Masa kejayaan atau keemasan Cirebon sebagai sebuah kerajaan berdaulat dimulai sejak diangkatnya Syarif Hidayatullah sebagai Sultan Cirebon I sampai dengan berakhirnya pemerintahan Sultan Cirebon ke II yaitu Pangeran Agung atau Panembahan Ratu yakni dari mulai tahun 1479-1649 Masehi.
Pada masa Syarif Hidayatullah Cirebon banyak melakukan gebrakan-gebrakan politik dengan menjalin persahabatan dengan kesultanan-kesultanan di Nusantara, terutama dengan Demak. Mereka juga melakukan pembangunan besar-besaran, seperti Istana, Masjid Agung serta insfrastruktur lainnya yang kemudian menjadi warisan sejarah hingga kini.