- VIVA/Yasir
Balla Lompoa merupakan rekonstruksi dari istana Kerajaan Gowa yang didirikan pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-31, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu, tahun 1936.
Balla Lompoa atau rumah kebesaran, adalah museum berbentuk rumah panggung, dengan sebuah tangga setinggi lebih dari dua meter untuk masuk ke ruang teras. Seluruh bangunan terbuat dari kayu ulin atau kayu besi.
Museum Balla Lompoa berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi benda-benda Kerajaan Gowa, sekaligus menjadi pusat kegiatan kerjaan.
Hanya saja, sejak Balla Lompoa dalam proses hukum, tidak ada lagi aktivitas kerjaan yag dilaksanakan di tempat itu. Saling klaim antara Pemerintah Kabupaten Gowa dengan keluarga Kerajaan Gowa menjadi pemicunya.
Kerajaan Islam di Aceh
Tidak hanya di tanah Jawa, dan bagian timur Indonesia. Kerajaan Islam juga ditemui di Pulau Sumatera, salah satunya Aceh. Di sini, ada beberapa kerajaan antara lain Samudera Pasai, Kerajaan Peureulak, hingga Kerajaan Aceh Darusalam, dan lain-lain.
Mereka mewariskan peninggalan sejarah berupa batu-batu nisan kuno. Penemuan batu nisan yang tertua ada di Kampong Pande, Banda Aceh. Namun, sebagian nisan bernasib tragis. Ada yang masih tenggelam dipinggiran pantai Kampung Jawa, bahkan ada nisan yang diambil oleh warga lalu dijadikan untuk asah parang. Kemudian, ada juga tertimbun oleh tumpukan sampah akibat akan dibangunnya proyek instalasi pengelolaan air limbah (Ipal) 2017 lalu.
Kemudian, peninggalan kejayaan kerajaan Islam lainnya, yaitu benteng Hindu yang diubah menjadi masjid pada tahun 1520 di bawah kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam dari tahun 1514 hingga 1528. Dan pengikut dari kerajaan Lamuri serta bangunan yang awalnya beragama Hindu, diislamkan sehingga ada proses islamisasi secara besar-besaran.
Meski telah berusia ratusan Tahun, Masjid Tuha Indrapuri ini tetap berdiri di di tengah perumahan warga. Masjid ini juga dijadikan sebagai lokasi tempat beribadah warga Kecamatan Lamuri.
![]()
Bangunan Masjid Tuha Indrapuri di Aceh. (VIVA/Dani Randi)
Di ruang masjid bersejarah ini, artefak yang masih utuh berupa 36 tiang penyangga atap masih tertata rapi dengan ukiran kaligrafi arab di sudut penyangga. Namun, di sekeliling luar pekarangan masjid tampak kurang terawat.