- VIVA/Yasir
Secara silsilah, dari tahun 1479 sampai dengan 1678 masehi Cirebon dipimpin tiga sultan, empat pangeran dan satu pejabat pengganti sultan. Pada kurun 1479-1495, Kesultanan Cirebon diperintah Syarif Hidayatullah yang merupakan Sultan I Cirebon. Kepemimpinan Syarif Hidayatullah dilanjutkan Fatahillah, Panembahan Ratu (Pangeran Agung), Pangeran Sedang Gayam (Pangeran Dipati Anom Carbon II), Panembahan Girilaya (Pangeran Putera). Pada 1678 Kesultanan Cirebon terpecah menjadi dua kerajaan yaitu Kasepuhan dan Kanoman.
Kesultanan Banten
Kerajaan Islam lain yang hingga kini masih eksis di tanah air adalah Kesultanan Banten. Berdirinya Kesultanan Banten pada tahun 1526 karena Kesultanan Cirebon dan Demak memperluas pengaruhnya di pesisir Jawa, dengan menaklukan beberapa daerah pelabuhan dan menjadikannya pangkalan militer untuk mengantisipasi terealisasinya perjanjian antara Kerajaan Sunda dan Portugis di tahun 1522.
Sultan pertamanya Maulana Hasanudin, putra tertua dari Sunan Gunung Jati, Cirebon. Para sultan Banten selanjutnya selalu dilantik di atas Watu Gilang, sebuah batu lebar seperti sajadah yang terletak di tengah kota waktu itu dan menghadap ke arah kiblat umat Islam.
Namun kini, kondisinya tak terawat, terhimpit oleh para pedagang, dipenuhi sampah dan hanya dipagar seadanya dari besi.
Sedangkan kondisi Masjid Agung Banten yang dibangun Sultan Maulana Hasanudin, yang berkuasa tahun 1552-1570, sedikit lebih baik. Sejak pintu masuk masjid, sudah di pasangin keramik. Namun sayang, masih saja banyak pengemis, pedagang asongan hingga Pedagang Kaki Lima yang berjualan di halaman masjid.
Lalu ada Keraton Surosowan seluas empat hektar yang dibangun tahun 1552 Masehi yang menjadi tempat tinggal para Sultan Banten saat berkuasa dahulu, seperti Sultan Maulana Hasanudin hingga Sultan Haji yang pernah berkuasa pada tahun 1672-1687 masehi. Bangunan ini dihancurkan Belanda saat kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa.
Di kelilingi oleh jalanan umum, banyak kendaraan besar dan berat yang melintasi jalanannya, sehingga debu bertebaran kemana-mana. Saat musim hujan, maka jalanan akan menjadi becek.
Baik di bagian luar maupun di bagian dalam keraton, masyarakat sekitar kerap kali menjadikannya lokasi bermain sepak bola hingga layangan. Rumput liar mengelilinginya. Tak ketinggalan, PKL pun meramaikan zona inti di mana Kesultanan Banten pernah berjaya.