SOROT 505

Bertahan di Tengah Arus Zaman

Balla Lompoa, rekonstruksi dari istana Kerajaan Gowa
Sumber :
  • VIVA/Yasir

Selain benda cagar budaya tersebut, ada lagi Benteng Spellwijk yang dibangun sekitar tahun 1585, ada Vihara Avalokitesvara yang tak berbeda jauh dengan pembangunan Masjid Agung Banten, Danau Tasikardi, Meriam Ki Amuk, hingga Pelabuhan Karangantu yang lokasinya tak jauh dari kompleks Masjid Agung Banten.

img_title Guru Gembul: Jayabaya Tidak Pernah Menulis Ramalan!

Hampir semua kondisi di reruntuhan Kesultanan Banten tak terawat dengan baik, banyak vandalisme, rumput tumbuh tinggi, sampah menumpuk, PKL mengelilingi zona inti dan mengalami kerusakan di banyak sisi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bangunan peninggalan-peninggalan Kesultanan Banten

img_title Mengungkap Fakta Sejarah, Guru Gembul Bongkar Mitos Ramalan Jayabaya dan Wajah Asli Sang Raja

Bangunan-bangunan peninggalan Kesultanan Banten. (VIVA/Yandi Deslatama)

Ada lagi Situs Keraton Kaibon, yang merupakan tempat tinggal ibu para Sultan Banten. Berdasarkan catatan sejarahnya, Istana Kaibon digunakan sebagai tempat tinggal Ratu Aisyah, ibunda dari Sultan Syaifuddin. Namun kini hanya tinggal reruntuhannya saja, karena pada tahun 1832, Belanda menghancurkannya saat terjadi peperangan melawan Kerajaan Banten.

img_title Pulau Sisilia, Wilayah Italia yang Pernah Dikuasai Muslim di Abad ke-9

Lokasi ini terbilang masih cukup layak dikunjungi. Meski masih ada saja vandalisme atau coretan yang merusak kesakralannya. Selain itu, letaknya yang tepat berseberangan dengan Sungai Cibanten, di sungai itu, kerap kali terjadi penumpukkan sampah di jembatannya, sehingga menimbulkan bau menyengat tak mengenakkan di hidung.

Sejak memasuki situs Kesultanan Banten, masyarakat akan menjumpai pos retribusi yang tak diketahui ke mana larinya uang itu. Ditambah, mereka dengan mudahnya bertemu peminta-minta dan kotak amal, yang biasanya ditabuh keras oleh penjaganya.

Saluran irigasi peninggalan Sultan Banten pun dipenuhi sampah dan tak terawat lagi. Lokasi parkir kendaraan roda empat atau lebih pun masih menggunakan zona inti dari keraton yang dihancurkan oleh Belanda itu. Kolam yang berada di depan Masjid Agung Banten, yang dulu dipergunakan untuk wudhu, airnya terlihat kotor dan tak bisa lagi dipergunakan untuk bersuci.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Cagar budaya di Banten Lama seperti putra mahkota yang tertidur sehingga harus dibangunkan," kata Penanggung Jawab Dokumentasi dan Publikasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten, Syarief Ahmadi, Senin, 4 Juni 2018).

Keberadaan situs sejarah itu sendiri telah di atur dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Setiap orang harus menjaga keberadaannya dan situs sejarah tidak boleh dipergunakan untuk kepentingan yang bersifat pribadi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut