Muslihat Kerajaan Abal - abal

Raja Keraton Agung Sejagat, Toto Susanto dan permaisurinya, Fanni Aminadia.
Raja Keraton Agung Sejagat, Toto Susanto dan permaisurinya, Fanni Aminadia.
Sumber :
  • VIVAnews/Dwi Royanto

VIVA – Raut ekspresi penyesalan tampak di wajah Teguh (46), seorang mantan pengikut Keraton Agung Sejagat (KAS) yang belakangan ramai diperbincangkan publik. Sore itu, matanya menerawang jauh. Ia tampak lesu mengingat pengalaman pahit menjadi korban penipuan si Raja dan Ratu palsu KAS yakni Toto Santoso (42) dan Fanni Aminadia (41) di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Warga Desa Kedung Kamal, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo itu mengaku sangat terpukul dan malu karena harus terseret kasus dan sempat diperiksa polisi. Bahkan ia sempat dirundung stres berat terkait stigma masyarakat yang menganggap dirinya menjadi pengikut orang gila. Itu karena dia tergiur akan iming-iming pangkat dan harta.

"Saya terbebani, apalagi ditambah saya menjadi korban penipuan. Mau nggak mau, ikhlas nggak ikhlas saya harus terpaksa merelakan uang yang saya berikan pada KAS," ujar Teguh kepada VIVAnews, Rabu 22 Januari 2020.

Kirab Keraton Agung sejagatKirab Keraton Agung Sejagat

Lebih dari Rp10 juta uang yang telah dikeluarkan Teguh selama mengikuti KAS sejak ia bergabung pada tahun 2018 silam. Dalam jangka waktu sekitar dua tahun tersebut, awalnya ia tergiur dengan gaji bulanan yang besar.

"Ya awal ketertarikan karena ajakan teman, tapi saya tidak mau menyebutkan siapa dia. Saya dikenalkan ke Toto dan Fanni, meyakinkan cara bicaranya," ujarnya menjelaskan.

Toto sebagai raja KAS pernah mengatakan pada Teguh bahwa dengan membayar sejumlah uang, dirinya bisa mendapatkan gelar punggawa keraton berbintang tiga di istana. Ia juga diiming-imingi bakal mendapatkan gaji dalam nominal besar dalam bentuk mata uang dollar Amerika Serikat.

Menurut Teguh, sebelum KAS mendeklarasikan diri pada tanggal 10 Januari 2020, kegiatan KAS sudah ada sejak tahun 2018. Kegiatan tersebut di antaranya kirab budaya di Gunung Tidar, Magelang, kemudian ada penobatan raja dan ratu di daerah dataran tinggi Dieng, Wonosobo pada bulan Juni 2019.

"Mulai aktifitas di Purworejo sekitar bulan Agustus 2019. Ya kita sering ada ritual, seperti ada peresmian batu prasasti hingga ritual penyucian diri, pokoknya ya kegiatannya itu seputar ritual-ritual kerajaan, itu masih tahap wajar bagi saya kayak ritual-ritual Jawa pada umumnya," ujarnya.

Keanehan dan kejanggalan KAS muncul setelah ia dan pengikut lainnya dijanjikan ada pencairan uang saat tanggal 10-12 Januari 2020 kemarin. Namun bukannya uang atau benda berharga lainnya, justru ia disuruh mengenakan seragam KAS komplit untuk acara Wilujengan dan Kirab Budaya.

"Ya kan saya berangkat saja waktu itu karena ada janji pencairan gaji, tapi kami malah disuruh ikut menjadi prajurit saat Wilujengan dan Kirab budaya. Di sana juga ada dideklarasikan berdirinya KAS," ujar Teguh.

Raja Keraton Agung Sejagat, Toto Susanto dan permaisurinya, Fanni Aminadia.Keraton Agung Sejagat

Halaman Selanjutnya
img_title