- tvOne
Soal kemampuan teknologi untuk mengidentifikasi virus corona, ia mengatakan saat ini dipusatkan di Litbangkes Kementerian Kesehatan.
“Jadi untuk corona itu kan penyakit baru, virus baru. Langsung WHO memberikan induknya, promernya ke seluruh laboratorium tiap negara, dalam hal ini Litbangkes Kemenkes pusatnya. Saat ini komputerisasi digitalisasi, real time,” ujarnya menjelaskan.
Selain itu untuk mengupayakan agar tidak timbul kepanikan di publik, pihak RSHS juga sudah bertemu dengan Dinkes, KKP, terutama di daerah-daerah. Ia mengatakan, saat ini ada grup koordinasi, yang akan akan menginformasikan dulu apakah harus diisolasi, dikirim atau tidak. Saat ini Koordinasi dilakukan dengan intens, daerah daerah melakukan konsultasi, dan dinilai sesuai kriteria.
Evolusi Virus
Sebuah artikel di stasiun berita BBC mengungkapkan, bagaimana cara hidup manusia yang telah berubah, sekitar 55% populasi manusia kini hidup di kota, meningkat 35% dibanding 50 tahun lalu, memberi dampak terjadinya evolusi penyakit.
Kota-kota besar yang menjadi tempat tinggal manusia ini juga menyediakan tempat hidup bagi hewan liar seperti tikus, rakun, tupai, rubah, unggas, anjing liar, monyet yang bisa hidup di ruang terbuka hijau dan memakan sampah yang dihasilkan manusia. Terkadang hewan liar ini lebih sukses hidup di kota daripada di alam liar karena banyaknya pasokan makanan.
"Maka ruang kota lantas menjadi tempat pertemuan berbagai penyakit yang berevolusi," demikian ditulis dalam artikel tersebut.
Penyakit baru yang muncul jadi lebih berbahaya dan menyebabkan ketakutan. Tapi, ada beberapa kelompok orang yang lebih rentan terhadap penyakit baru ketimbang kelompok yang lain.
Petugas medis dan militer China menangani virus corona
Penduduk miskin perkotaan akan memiliki risiko lebih besar untuk bertemu sumber dan pembawa penyakit karena minimnya fasilitas kebersihan dan kesehatan. Nutrisi yang buruk, paparan udara berpolusi juga menyebabkan lemahnya sistem kekebalan tubuh. Jika sakit, mereka juga mungkin tak mampu mendapat perawatan kesehatan.
Infeksi juga tersebar cepat di kota besar yang padat, karena penduduk menghirup udara yang sama dan menyentuh berbagai benda yang sama.