- tvOne
Prof. Agus mengatakan, sifat kelelawar yang terbang dari satu wilayah ke wilayah lain, tentunya berpeluang memberikan cemaran ke berbagai wilayah. Menurutnya, patogen di kelelawar jadi berbahaya ketika kelelawar dikonsumsi. "Ketika dipersiapkan, dipotong-potong untuk dimasak. Orang yang memotong berhadapan dengan kelelawar yang memang mengandung virus dalam tubuhnya. Ketika dipotong-potong, dicacah, maka risikonya ada di situ," ujarnya menjelaskan.Â
Agus menjelaskan, sebenarnya virus corona bisa mati pada suhu 60 derajat, selama tiga puluh menit. Jika dimasak dengan sempurna, maka dipastikan virus itu akan mati. Namun karena saat ini virus sudah bermasalah dan menularkan antar manusia, tentu lain lagi upaya untuk mencegah penularannya.Â
Ia membeberkan upaya pencegahan agar tak mudah terjangkit corona virus. Pertama, hindari kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan yang berisiko tinggi. Kedua, jangan makan buah yang sudah dimakan kelelawar. Biasanya, buah yang sudah dikonsumsi kelelawar adalah buah yang sudah masak di pohon dan rasanya manis. Kadang manusia mengonsumsinya. Padahal buah yang sudah digerogoti kelelawar malah berbahaya dan harus dihindari. Hindari mengonsumsi kelelawar sebagai makanan, karena berisiko untuk kesehatan tubuh.
Status Darurat Global dan Pembangunan Rumah Sakit Khusus
Berbagai upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah China seperti tak ada artinya. Penyebaran virus corona tetap tak terbendung. Kamis, 30 Januari 2020, badan kesehatan dunia (WHO) menyatakan wabah virus corona sebagai darurat kesehatan global. Sebab, wabah terus menyebar ke negara lain.
"Alasan utama penyataan ini bukanlah apa yang terjadi di China, tetapi apa yang terjadi di negara lain," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, sebagaimana dikutip dari BBC, Jumat 31 Januari 2019.
WHO mengkhawatirkan, wabah virus mematikan itu dapat menyebar ke negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih lemah. WHO mengatakan ada 98 kasus di 18 negara di luar negara itu, tetapi sejauh ini tidak ada kematian.
Sebagian besar kasus muncul pada orang yang melakukan perjalanan dari kota Wuhan di China, wilayah yang diyakini sebagai pusat penyebaran virus mematikan tersebut. Namun, ada delapan kasus infeksi antarmanusia, yaitu terjadi di Jerman, Jepang, Vietnam, dan Amerika Serikat.