SOROT 590

Dunia Berjaga Wabah Corona

Pemerintah China mengebut pembangunan rumah sakit khusus orang-orang yang terjangkit virus corona dan segala penanganan wabah mematikan itu di kota Wuhan, provinsi Hubei.
Sumber :
  • tvOne

"Kebijakan pemerintah China untuk men-shutdown sementara transportasi di, dari, dan ke Wuhan bukan berarti meniadakan aktivitas warga Wuhan secara total. Tidak ada larangan untuk pergi keluar rumah, hanya imbauan untuk selalu menggunakan masker ketika beraktivitas di luar. Saya masih melihat tetangga-tetangga saya keluar masuk asrama karena kebutuhan mereka. Dan tentunya menggunakan masker," ujarnya kepada VIVAnews, Jumat, 31 Januari 2020.

img_title Epidemiolog Sebut Virus Nipah Bisa Jadi Pandemi, Berpotensi Masuk Indonesia

Sejumlah WNI yang akhirnya berbelanja kebutuhan pokok di Kota Wuhan, China.Sejumlah WNI di Kota Wuhan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menuturkan, sesama mahasiswa Indonesia yang ada di Wuhan saling terus memberi semangat agar tetap tenang dan tidak panik. Tiap malam mereka saling memeriksa suhu badan dan melaporkannya secara berkala ke pihak kampus masing-masing. Yuliannova memastikan bahwa ia dan teman-temannya tidak kelaparan karena stok makanan cukup dan tetap bisa tidur nyaman di asrama tempat tinggal mereka selama ini.

img_title Ditemukan di Sejumlah Negara, Seberapa Bahaya Varian Baru Virus Corona Pirola?

Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) di Bandung, Jawa Barat, ikut sibuk. Rumah sakit ini menerima dua pasien dengan dugaan terpapar virus Novel Coronavirus (2019-nCoV). Dua orang itu adalah warga China yang tengah bekerja, sementara yang satunya yaitu warga Dago yang pulang dari Singapura. Keduanya dirawat intensif dan ditempatkan dalam ruang isolasi.

Ketua Tim Infeksi Khusus RSHS, dr. Yovita Hartantri, SpPD-KPTI menjelaskan kedua pasien dirawat menggunakan alat bantu nafas, dan masuk kategori pasien dalam pemantauan. 

img_title Jill Biden Kembali Positif COVID-19, Segera Isolasi Mandiri di Rumah

"Jadi kalau dalam pemantauan itu dia sebenarnya dalam risiko yang ringan, artinya dia tidak dengan tanda infeksi, tidak ada secara umum sesak nafas, lalu dia tidak ada kontak dengan orang yang memang terkonfirmasi posifitf, tidak ada. Jadi masih dalam risiko rendah tapi ada yang datang dengan sesak nafas, dengan alat bantu nafas lalu ada riwayat ke negara Singapura dimana di sana ditemukan kasus yang terkonfirmasi maka kita masukan kriteria pasien dalam pengawasan atau termasuk resiko yang tinggi,” ujarnya kepada VIVAnews.

Yovita menjelaskan, bahwa RSHS sudah sejak tahun 2013 menangangi SARS. Ia memastikan persiapan sudah aman terkendali.  “Sebenarnya RSHS sudah sebenarnya sejak jaman 2013 SARS. Pengalaman aman, sudah ada tim, sudah ada SOP nya, kemarin kami juga sudah koordinasi dan simulasi, jadi aman terkendali," ujarnya. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut