- ANTARA/M Agung Rajasa
Menurut dia, Perum yang berdiri sejak 1925 ini memang belum sekali pun mencatatkan laba. Hingga pada akhir 2013 di bawah kepemimpinannya, perusahaan ini bisa meraih laba untuk pertama kalinya. Tak besar, hanya Rp156 juta. Kemudian pada 2015 meningkat dan mencatatkan keuntungan di atas Rp200 juta.
![]()
Sejumlah bus Transjakarta milik PPD melaju di kawasan Pasar Baru, Jakarta. Foto: ANTARA/Wahyu Putro A
Nyaris Ditutup
Dulu, pemerintah nyaris menutup BUMN ini. Pemerintah melalui Kementerian BUMN memberikan dua opsi yang harus dipilih manajemen, melakukan restrukturisasi atau di likuidasi. Bahkan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, sempat meminta kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk diizinkan melikuidasi PPD. Pasalnya, perusahaan ini dinilai telah mati tapi sulit untuk dikubur. Karena, biaya yang dikeluarkan untuk menutup PPD jauh lebih besar dari utang-utangnya.
Perum PPD mengalami pendarahan keuangan sejak 1991. Kendala utama yang dihadapi BUMN transportasi ini adalah minimnya bantuan pengadaan armada bus oleh pemerintah. Sehingga, rasio antara armada dan karyawan tak seimbang. Selain itu, jumlah armada yang dimiliki Perum PPD juga memiliki masalah serius yang sangat berat untuk diselesaikan di tengah minimnya dana operasional, seperti kenaikan harga suku cadang hingga 400 persen. Hal itu diperparah dengan pencabutan subsidi. Sementara, Perum PPD tak bisa menaikkan tarif.
Dampaknya, armada yang dimiliki Perum PPD semakin sedikit yang beroperasi di Ibu Kota. Bahkan, berbagai langkah seperti kanibalisasi (mengambil bagian) spare part bus yang sudah tidak beroperasi pun dilakukan untuk melakukan efisiensi biaya operasional.  Â
Namun, kala Perum PPD ditukangi oleh Pande Putu Yasa yang menjadi Plt Dirut pada 2012 sedikit demi sedikit kondisi PPD berubah. Pria ini banyak melakukan gebrakan untuk membenahi dan menyelamatkan perusahaan. Pande mengatakan, pada awal kepemimpinannya, banyak program quick wins yang dilakukan secara cepat agar pendarahan keuangan tidak lebih parah. Salah satunya melakukan efisiensi dan memaksimalkan aset-aset yang ada seperti menyewakan lahan perusahaan kepada pihak ketiga.
Selain itu, Pande juga fokus pada pembentukan manajemen perusahaan yang sehat, transparan dan melakukan rotasi atau mutasi bagi pejabat satu level di bawah direksi. Ia juga menyusun ulang Standar Operasional Proseduk (SOP) disertai aturan tegas terhadap penyimpangan aturan. Ia juga memberikan promosi jabatan pada karyawan yang berprestasi.