- theverge.com
Laporan eMarketer menyebut, secara global, tahun ini kemungkinan Google akan meraup pendapatan dari iklan digital sebesar US$57,8 miliar, atau setara dengan 30,9 persen dari total pendapatan pasar iklan digital di seluruh dunia. Kontribusi dari iklan di mesin pencarian akan mencapai US$47,57 miliar atau sekitar 55,2 persen dari total pendapatan iklan di seluruh platform mesin pencarian.
Sedangkan di iklan display, tahun ini Google akan mendapatkan penghasilan US$10,23 miliar. Iklan di YouTube pun akan memberikan kontribusi cukup besar, sekitar US$5,18 miliar. Belum lagi pendapatan iklan mobile (mobile search, apps, playstore) sekitar US$34,11 miliar. Terkait valuasi, secara global, menurut data Forbes, sampai Mei 2016, nilai perusahaan Google mencapai US$82,5 miliar.
Untuk urusan iklan digital, Direktur Konsumer Insight PT Nielsen, Rusdi Sumantri, menyebut jika hampir semua perusahaan menggunakan Google untuk menyasar pengguna digital. Sebagian lainnya mengarah ke Facebook dan Twitter. Sayangnya, kata dia, Nielsen tidak memiliki data dan di Indonesia pun belum ada sistem ukur yang valid untuk menunjukkan ketergantungan industri iklan terhadap Google dan kawan-kawan.
“Yang jelas, memang tren iklan digital terus naik di Indonesia dari tahun ke tahun karena makin banyak orang yang akses internet,” kata Rusdi. “Biasanya untuk mempromosikan bisnis, kita harus beriklan di digital. Dari total belanja iklan perusahaan, 20 persen biasanya dialokasikan ke digital, sisanya ke TV dan media lain. Kalau iklan digital saat ini yang besar ada dua, Facebook dan Google. Hanya mereka yang tahu berapa penghasilannya karena belum ada sistem ukurnya.”
Facebook dan Twitter, serta perusahaan over the top (OTT) luar negeri lainnya, ternyata tak luput dari kejaran Ditjen Pajak. Haniv memang tidak memberikan detil berapa nilai pajak Facebook dan Twitter yang akan ditagih. Namun dia mengakui kedua platform itu lebih mau bekerja sama ketimbang Google.
Sayangnya, saat kami melakukan konfirmasi ke pihak Facebook, ditemui di acara Mobile Marketing Award (MMA) di Ritz Carlton, sama seperti Google, bos Facebook Indonesia Sri Widowati enggan mengomentari mengenai masalah itu. Dia lebih suka membahas mengenai tema seminar MMA hari itu.