Heboh Padepokan 'Tipu-tipu'

Polisi menunjukkan barang bukti dari tersangka penipu Dimas Kanjeng Taat Pribadi di mapolda Jawa Timur, Jumat (7/10/2016).  Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat
Polisi menunjukkan barang bukti dari tersangka penipu Dimas Kanjeng Taat Pribadi di mapolda Jawa Timur, Jumat (7/10/2016). Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat
Sumber :
  • ANTARA/M Risyal Hidayat

VIVA.co.id – Matahari mendekati ufuk barat. Langit mendung tipis selimuti dusun terpencil di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Kala itu, Rabu sore, 12 Oktober 2016.

Dusun itu letaknya di perbatasan Desa Wangkal dan Gading. Namanya, Dusun Cengkelek. Daerah tersebut beberapa hari terakhir sudah jadi pusat perhatian. Awalnya cuma jadi sorotan masyarakat lokal, kemudian jadi perhatian jurnalis nasional, dan kini sudah masuk pemberitaan media massa internasional.

Bukan tanpa sebab dusun kecil itu jadi populer. Seorang warga di sana, Taat Pribadi (46 tahun), tiba-tiba jadi magnet pemberitaan saat padepokan yang diasuhnya digerebek polisi pada 22 September 2016 lalu. Padepokan Dimas Kanjeng, itulah namanya.

Padepokan itu berdiri di atas lahan yang berada di dua desa, yakni Desa Wangkal dan Gading. Lokasinya terbilang pencil. Ada empat jalan kecil menuju ke sana, yakni melalui Kecamatan Pajarakan ke selatan, Jalan Semampir atau Jalan Gus Dur di Kecamatan Kraksaan, dan terakhir bisa lewat Paiton.

Butuh sekira lima puluh menit perjalanan untuk sampai di lokasi dari Jalan Raya Kraksaan (Probolinggo)-Situbondo. Sampai di Desa Wangkal (juga kota Kecamatan Gading), ada dua jalur masuk ke area Padepokan. Jalur selatan dan utara. Di setiap mulut jalur berdiri gapura cokelat bertuliskan Padepokan Dimas Kanjeng.

Dari pusat desa, pengikut atau pengunjung membutuhkan waktu tak sampai lima menit tiba di area Padepokan. Sampai di lokasi, gapura serupa berdiri menjadi pintu sebuah lahan kosong sebagai parkir kendaraan. Seratus meter dari parkiran, di situlah pintu gerbang utama padepokan berada.

Di mulut padepokan, pos penjagaan berdiri. Menurut warga setempat, pos ini biasanya dijaga oleh para pengikut Dimas Kanjeng. Ada lima bangunan atau gedung yang mencolok begitu masuk ke area dalam Padepokan. Gedung asrama putra, aula berdinding kaca, rumah lama Dimas Kanjeng, asrama putri, dan rumah utama nan megah Dimas Kanjeng.

Di sisi selatan bangunan utama itu, ada dua bangunan lagi berhalaman luas, yakni masjid, satu gedung serupa kantor tempat pengurus. Di sebelahnya ada lapangan olahraga. Sedangkan di sisi barat lahan kosong, jadi tempat para pengikut Dimas Kanjeng yang masih bertahan sekarang. Mereka mendirikan tenda-tenda dari terpal.

Padepokan itu berada di lahan sekira dua hektare. Area dalam padepokan seperti dibuat steril karena dikelilingi pagar setinggi kira-kira satu setengah meter. Hanya ada dua akses untuk masuk ke dalam area padepokan, yakni sisi selatan dan utara. Saat ini, akses itu ditutup dengan bambu dan dijaga polisi. 

Papan nama Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi

Papan nama Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Foto: VIVA.co.id/Nur Faishal

Tarik Pengikut

Dimas Kanjeng, demikian Taat dikenal, ditangkap karena disangka membunuh dua pengikutnya, Ismail Hidayah dan Abdul Gani. Belakangan, Taat juga dijadikan tersangka penipuan bermodus penggandaan uang. Pengikutnya disebut-sebut ada puluhan ribu orang. Mereka berasal dari berbagai provinsi di Tanah Air. Diperkirakan, uang penipuan yang berhasil dikumpulkan Dimas Kanjeng bernilai triliunan rupiah.

Ihwal Padepokan Dimas Kanjeng tidak ada data pasti bisa dijadikan rujukan sejak kapan berdiri. Setiap narasumber yang ditemui VIVA.co.id, punya cerita berbeda-beda.

Satu-satunya data tertulis yang bisa diperoleh ialah selembar kertas berisi Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI bernomor: AHU-3632.AH.01.Tahun 2012, tentang pengesahan Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Surat Keputusan itu dikeluarkan Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, ditandatangani oleh Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum, Aidir Amir Daud, pada 13 Juni 2012. Surat dikeluarkan berdasarkan permohonan dari notaris bernama Ayu Marliaty pada 28 Mei 2012. Notaris itu disebutkan berkedudukan di Kabupaten Sidoarjo.

Camat Gading, Slamet, mengakui berkas SK Menkumham soal pengesahan Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng tersebut. Dia juga membenarkan bahwa yayasan itu disahkan oleh pemerintah pada tahun 2012. “Tapi sebelum itu kegiatannya sudah ada,” kata Slamet saat berbincang VIVA.co.id, Kamis, 13 Oktober 2016.

Sekretaris Kecamatan, Sutrisno, menjelaskan SK Kemenkumham tersebut dia temukan di teras rumah utama Taat Pribadi kala penggerebekan dilakukan oleh ribuan personel polisi dari Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur dan Kepolisian Resor Probolinggo pada 22 September 2016 lalu. “Saya foto, lalu saya serahkan ke Pak Camat. Soal asli tidaknya SK itu, saya tidak tahu,” ujarnya.

Sutrisno tidak tahu sejak kapan aktivitas Padepokan Dimas Kanjeng berjalan. Dia baru dua bulan bertugas di Kecamatan Gading sebelum penggerebekan terjadi. Sebelumnya, Sutrisno bertugas di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Probolinggo. “Selama saya di Bakesbangpol, tidak ada yang mendaftarkan Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng masuk,” ujarnya.

Dari seorang tokoh muda Desa Wangkal (selanjutnya disebut samaran Kamandanu), VIVA.co.id memperoleh cerita lebih rinci tentang sosok dan kegiatan seorang Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng. “Saya tahu Taat sejak saya masih kecil. Waktu saya masih kecil, Taat ini sudah SMA. Saya lupa tahunnya berapa,” kata pria yang namanya minta dirahasiakan.

Kamandanu menceritakan, sejak SMA, Taat memang dikenal sebagai pemuda yang suka mencari ilmu berkaitan hal gaib, atau bahasa warga sekitar “suka berguru”. Antara tahun 1990-an-awal 2000, Taat pernah menjadi Koordinator Yayasan Amalillah dan merekrut banyak klien di Desa Wangkal. Soal itu juga terkonfirmasi dari warga lain yang ditemui. “Tapi Pribadi (sebutan Taat Pribadi) bukan koordinator tinggi, masih tingkat bawah,” katanya.

Bersama empat temannya, Taat kemudian diketahui berguru kepada Abah Ilyas di Mojokerto. Saat itu, Taat kebingungan menanggung utang sekira Rp50 juta. Di Abah Ilyas, mereka juga tergiur iming-iming penggandaan uang. “Dari lima orang ini, hanya yang Pribadi yang cair Rp50 juta. Yang lain tidak,” katanya.

Pria bertubuh pendek itu ingat, kegiatan di Padepokan Dimas Kanjeng mulai ramai sejak 2006. Kala itu, area Padepokan Dimas Kanjeng tidak seluas seperti sekarang. Rumah Taat masih satu unit, yakni di samping rumah utama yang megah sekarang. Rumah asal Taat persis seperti foto beredar kala dia memamerkan uang, didampingi beberapa polisi memegang senjata. “Rumahnya masih itu,” ucapnya.

Sejak itu, kata Kamandanu, banyak orang luar Probolinggo berdatangan ke Desa Wangkal. Lama-lama, banyak lahan milik warga dibeli Dimas Kanjeng dan dipakai sebagai area padepokan. Waktu itu pengikutnya banyak yang indekos di rumah warga. “Ada yang sudah lama di sana sampai mau ditawari tidur di kandang, karena warga kasihan ke pengikutnya yang datang dan tinggal lama,” tuturnya.

Sejumlah pengikut Dimas Kanjeng bertahan di sejumlah tenda

Sejumlah pengikut Dimas Kanjeng bertahan di sejumlah tenda Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Gading, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (3/10/2016). Foto: ANTARA/Umarul Faruq

Halaman Selanjutnya
img_title