- ANTARA/M Risyal Hidayat
VIVA.co.id – Matahari mendekati ufuk barat. Langit mendung tipis selimuti dusun terpencil di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Kala itu, Rabu sore, 12 Oktober 2016.
Dusun itu letaknya di perbatasan Desa Wangkal dan Gading. Namanya, Dusun Cengkelek. Daerah tersebut beberapa hari terakhir sudah jadi pusat perhatian. Awalnya cuma jadi sorotan masyarakat lokal, kemudian jadi perhatian jurnalis nasional, dan kini sudah masuk pemberitaan media massa internasional.
Bukan tanpa sebab dusun kecil itu jadi populer. Seorang warga di sana, Taat Pribadi (46 tahun), tiba-tiba jadi magnet pemberitaan saat padepokan yang diasuhnya digerebek polisi pada 22 September 2016 lalu. Padepokan Dimas Kanjeng, itulah namanya.
Padepokan itu berdiri di atas lahan yang berada di dua desa, yakni Desa Wangkal dan Gading. Lokasinya terbilang pencil. Ada empat jalan kecil menuju ke sana, yakni melalui Kecamatan Pajarakan ke selatan, Jalan Semampir atau Jalan Gus Dur di Kecamatan Kraksaan, dan terakhir bisa lewat Paiton.
Butuh sekira lima puluh menit perjalanan untuk sampai di lokasi dari Jalan Raya Kraksaan (Probolinggo)-Situbondo. Sampai di Desa Wangkal (juga kota Kecamatan Gading), ada dua jalur masuk ke area Padepokan. Jalur selatan dan utara. Di setiap mulut jalur berdiri gapura cokelat bertuliskan Padepokan Dimas Kanjeng.
Dari pusat desa, pengikut atau pengunjung membutuhkan waktu tak sampai lima menit tiba di area Padepokan. Sampai di lokasi, gapura serupa berdiri menjadi pintu sebuah lahan kosong sebagai parkir kendaraan. Seratus meter dari parkiran, di situlah pintu gerbang utama padepokan berada.
Di mulut padepokan, pos penjagaan berdiri. Menurut warga setempat, pos ini biasanya dijaga oleh para pengikut Dimas Kanjeng. Ada lima bangunan atau gedung yang mencolok begitu masuk ke area dalam Padepokan. Gedung asrama putra, aula berdinding kaca, rumah lama Dimas Kanjeng, asrama putri, dan rumah utama nan megah Dimas Kanjeng.
Di sisi selatan bangunan utama itu, ada dua bangunan lagi berhalaman luas, yakni masjid, satu gedung serupa kantor tempat pengurus. Di sebelahnya ada lapangan olahraga. Sedangkan di sisi barat lahan kosong, jadi tempat para pengikut Dimas Kanjeng yang masih bertahan sekarang. Mereka mendirikan tenda-tenda dari terpal.