- ANTARA/M Risyal Hidayat
Sutrisno tidak tahu sejak kapan aktivitas Padepokan Dimas Kanjeng berjalan. Dia baru dua bulan bertugas di Kecamatan Gading sebelum penggerebekan terjadi. Sebelumnya, Sutrisno bertugas di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Probolinggo. “Selama saya di Bakesbangpol, tidak ada yang mendaftarkan Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng masuk,” ujarnya.
Dari seorang tokoh muda Desa Wangkal (selanjutnya disebut samaran Kamandanu), VIVA.co.id memperoleh cerita lebih rinci tentang sosok dan kegiatan seorang Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng. “Saya tahu Taat sejak saya masih kecil. Waktu saya masih kecil, Taat ini sudah SMA. Saya lupa tahunnya berapa,” kata pria yang namanya minta dirahasiakan.
Kamandanu menceritakan, sejak SMA, Taat memang dikenal sebagai pemuda yang suka mencari ilmu berkaitan hal gaib, atau bahasa warga sekitar “suka berguru”. Antara tahun 1990-an-awal 2000, Taat pernah menjadi Koordinator Yayasan Amalillah dan merekrut banyak klien di Desa Wangkal. Soal itu juga terkonfirmasi dari warga lain yang ditemui. “Tapi Pribadi (sebutan Taat Pribadi) bukan koordinator tinggi, masih tingkat bawah,” katanya.
Bersama empat temannya, Taat kemudian diketahui berguru kepada Abah Ilyas di Mojokerto. Saat itu, Taat kebingungan menanggung utang sekira Rp50 juta. Di Abah Ilyas, mereka juga tergiur iming-iming penggandaan uang. “Dari lima orang ini, hanya yang Pribadi yang cair Rp50 juta. Yang lain tidak,” katanya.
Pria bertubuh pendek itu ingat, kegiatan di Padepokan Dimas Kanjeng mulai ramai sejak 2006. Kala itu, area Padepokan Dimas Kanjeng tidak seluas seperti sekarang. Rumah Taat masih satu unit, yakni di samping rumah utama yang megah sekarang. Rumah asal Taat persis seperti foto beredar kala dia memamerkan uang, didampingi beberapa polisi memegang senjata. “Rumahnya masih itu,” ucapnya.
Sejak itu, kata Kamandanu, banyak orang luar Probolinggo berdatangan ke Desa Wangkal. Lama-lama, banyak lahan milik warga dibeli Dimas Kanjeng dan dipakai sebagai area padepokan. Waktu itu pengikutnya banyak yang indekos di rumah warga. “Ada yang sudah lama di sana sampai mau ditawari tidur di kandang, karena warga kasihan ke pengikutnya yang datang dan tinggal lama,” tuturnya.