- ANTARA/M Risyal Hidayat
![]()
Sejumlah pengikut Dimas Kanjeng bertahan di sejumlah tenda Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Gading, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (3/10/2016). Foto: ANTARA/Umarul Faruq
Cuma Tontonan
Kamandanu menyangkal berita-berita di banyak media bahwa warga sekitar semua diam karena “disuntik” kedermawanan Dimas Kanjeng. Kata Kamandanu, memang ada yang diberi semacam sedekah, tapi dipilih-pilih. “Kalau yang kritis dan selalu ngerasani, tidak diberi. Tapi ada juga warga yang menolak pemberian Taat, karena tahu itu uangnya pengikut,” ujarnya.
Bagi warga Desa Wangkal, menurut Kamandanu, Padepokan Dimas Kanjeng dan pengikutnya direspons sebagai tontonan atau hiburan saja. Warga cuek karena selama ini Taat dan pengikutnya tidak pernah mengganggu ketentraman warga. “Malah kalau ada warga luar salat di masjid, terkadang ibu-ibu melarang orang yang mau ke sana, diingatkan agar tak ke padepokan. Tapi tetap nekat,” katanya.
Biasanya, para ‘Sultan’, sebutan bagi koordinator, yang biasa berbaur dengan warga sekitar. Mereka menceritakan tentang kesaktian Dimas Kanjeng. Para sultan bahkan menggambarkan Dimas Kanjeng selaik waliyullah. Bagi warga sekitar, cerita seperti itu sudah lama didengar dari para pengikutnya. “Ditanggapi saja, tapi warga sebetulnya tertawa,” ujarnya.
Pernah ada satu cerita pasangan suami-istri dari luar daerah hendak ke Padepokan Dimas Kanjeng. Sebelum ke lokasi, pasutri itu melaksanakan salat di masjid di Desa Wangkal. Jemaah wanita yang mengetahui tujuan pasutri itu lalu menasihati si istri agar tidak ke sana, karena iming-iming penggandaan uang yang dijanjikan sebetulnya semu. “Si istri kemudian melarang suaminya. Keduanya bertengkar di masjid,” ucap Kamandanu.
Respons berbeda disampaikan Emma, warga Desa Wangkal. Dia membuka warung makan di dekat pintu utama padepokan. Emma mengaku keberadaan Padepokan Dimas Kanjeng justru sebagai berkah. Dia mengaku berumah tinggal di Pasar Wangkal yang relatif lebih ramai.
Tiga tahun lalu, Emma ditawari oleh istri Dimas Kanjeng agar berjualan di sekitar Padepokan. Saat itu, pengikut Dimas Kanjeng sudah ribuan orang. Datang dan pergi setiap hari, selain yang indekos di rumah-rumah warga. “Istrinya Kanjeng menyuruh santri makan di warung saya. Mungkin karena saya masih baru berjualan,” ujar Emma.