- ANTARA/M Risyal Hidayat
S mengaku tidak tahu kenapa bisa menurut saja ketika diberi tahu oleh J soal kemampuan Dimas Kanjeng. Dia juga menurut ketika dimintai sumbangan Rp3 juta untuk biaya proses penobatan raja Dimas Kanjeng pada tahun 2014 lalu. S baru sadar telah tertipu ketika kasus Dimas Kanjeng terkuak di media. “Tapi sudah dikembalikan baru dua ratus juga oleh si koordinator ini,” ujarnya.
Beberapa hari lalu, lanjut S, J pulang ke rumahnya di Nguling. S berusaha menghubungi untuk menanyakan soal sisa uang setoran kapan cair. “Waktu pulang kemarin saya telepon masih bisa. Dia (J) bilang akan cair. Dia minta mahar lagi, ya, saya tidak kasih. Lah wong yang sebelumnya sudah nipu. Katanya dia sekarang di sini (padepokan),” katanya.
Nah, S mendatangi Padepokan Dimas Kanjeng untuk mengkonfirmasi lagi soal uang sisa setorannya itu. Tapi setelah dihubungi, nomor J sudah tidak aktif. S berusaha masuk untuk menemui J di tenda padepokan, tempat pengikut Dimas Kanjeng bertahan, tapi tidak diperbolehkan oleh petugas kepolisian yang berjaga.
Petugas menyarankan S untuk melaporkan apa yang dialaminya ke Kepolisian Resor Probolinggo. Disarankan seperti itu, S terlihat gamang. Wanita berjilbab itu mengaku tidak memiliki bukti apapun untuk melapor ke polisi. “Saya tidak diberi kuitansi setoran. Kuitansinya dibawa dia (J),” ujarnya.
Cerita S itu seperti menegaskan bahwa pengikut Dimas Kanjeng yang bertahan di tenda-tenda padepokan ialah mereka yang kebanyakan menjadi koordinator, perekrut atau pengepul uang mahar orang-orang yang ingin uangnya digandakan. “Kalau di media, pengikut ini menunjukkan sikap optimis kalau uang akan cair. Kalau saya dekati, sebetulnya mereka ingin pulang tapi bingung,” kata seorang petugas pemerintahan setempat.
Camat Gading, Slamet, menuturkan, data per 13 Oktober 2016, jumlah anggota Padepokan Dimas Kanjeng yang masih bertahan di tenda-tenda padepokan sebanyak 213 orang. Mereka berasal dari beberapa daerah di Pulau Jawa dan luar Jawa. “Kami mendata pengikut yang menetap di dalam saja, belum yang keluar-masuk,” katanya.
Ihwal berubah-ubahnya data anggota yang bertahan di padepokan digambarkan oleh Sekretaris Kecamatan, Sutrisno. “Beberapa hari lalu tercatat yang bertahan 276 orang, besoknya berkurang jadi 242 orang, besoknya lagi tinggal 235 orang, hari ini 212 orang,” katanya.