- ANTARA/M Risyal Hidayat
Pria bertubuh gempal yang memiliki empat orang istri ini membantah jika di padepokan yang ia buat mengajarkan aliran sesat. Kadang kumpul-kumpul, bakti sosial. Saling tukar informasi, sekaligus jualan barang dagangannya. Tidak ada ajaran sesat, begitu katanya.
![]()
Pemimpin Padepokan Satrio Aji, Anton Hardiyanto alias Aji. Foto: VIVA.co.id/Zahrul Darmawan
Tidak seperti padepokan pada umumnya, yang punya tempat untuk memberikan materi ke murid-muridnya, padepokan buatan Anton ini tak ada majelis. Saling tatap muka pun jarang. Kalau kumpul, tempatnya tidak tentu. Terang saja, padepokan ini hanya ‘beroperasi’ di jagad Facebook.
Tak cuma itu, pria berkulit sawo matang ini pun mengakui tidak memiliki kemampuan supranatural apapun. Termasuk menarik emas batangan dari alam gaib. Semua yang diperlihatkan ke murid-muridnya itu hanyalah trik sulap yang ia pelajari secara otodidak.
“Itu cuma sulap yang saya pelajari dari jalan dan YouTube. Alat-alatnya saya beli di Jatinegara.”
Awal Kasus
Nasi sudah jadi bubur. Nyawa yang sudah dihabisi, tak mungkin bisa kembali. Anton hanya bisa meratapi nasib, akan berakhir di jeruji besi. Dia menyesal karena telah menghabisi nyawa dua muridnya.
Shendy Eko Budianto (27) dan Ahmad Sanusi (20), dibunuh dengan cara mencampurkan racun ikan atau potassium sianida ke dalam kopi keduanya.
Pembunuhan Shendy dan Sanusi bermula dari perkenalan mereka dengan Anton beberapa bulan silam. Saat itu, Anton yang membuka padepokan di Facebook, mengaku bisa menarik emas batangan secara gaib, apabila kedua lelaki itu mau menyerahkan mahar dan melakukan serangkaian ritual.
Mahar yang diminta adalah mobil Avanza B 2963 TFT milik Shendy yang biasa dikemudikan Sanusi untuk taksi online. Anton tak kehabisan akal ketika kedua pria itu menolak memberikan mobilnya. Pada Jumat malam, 30 September 2016, Anton mengajak keduanya untuk melakukan ritual di Kampung Serab, Sukmajaya, Depok.
Sebelum melakukan ritual di tempat itu, Anton lebih dulu mampir ke warung tak jauh dari tempat tinggalnya di kawasan Jalan M . Yusuf, Sukmajaya Depok. Di warung kopi itu dia membeli gorengan, tiga bungkus kopi berikut gelas plastik dan satu bungkus es teh manis.