SOROT 418

Heboh Padepokan 'Tipu-tipu'

Polisi menunjukkan barang bukti dari tersangka penipu Dimas Kanjeng Taat Pribadi di mapolda Jawa Timur, Jumat (7/10/2016). Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat
Sumber :
  • ANTARA/M Risyal Hidayat

Soal kemampuan supranatural Dimas Kanjeng, Sekretaris Kecamatan, Sutrisno, punya ceritanya. Beberapa hari lalu, ada seorang keluarga pengikut Dimas Kanjeng datang ke Padepokan hendak menjemput kerabatnya yang masih bertahan. “Orang dari Pasuruan itu datang bersama seorang kiai,” kata Sutrisno.

img_title Marwah Datangi Polda Jatim karena Padepokan Mau Dikosongkan

Ketika menemui pengikut yang dimaksud, si kiai lalu melecutkan sorbannya ke kepala anggota Dimas Kanjeng yang hendak dijemput. Seketika itu juga orang yang akan dijemput tergelagap, seperti baru sadar dari tidur. “Dia seperti baru menyadari kenapa ada di tempat (padepokan) ini. Dari situ saya menganalisis, pengikutnya seperti terhipnotis,” cerita Sutrisno.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain cerita kewalian, Dimas Kanjeng juga diketahui menggunakan ‘baju’ kewibawaan untuk memikat para pengikutnya. Salah satunya dengan cara memperlihatkan keakraban dengan tokoh dan ulama yang disegani. Beberapa tokoh diundangnya ke padepokan untuk berceramah. Dia juga membuat acara penobatan raja untuk dirinya pada tahun 2014 lalu. Taat bergelar Sri Raja Prabu Rajasanagara.

img_title Dimas Kanjeng segera Diadili Kasus Penggandaan Uang

Mata uang asing barang bukti penipuan Dimas Kanjeng

Polisi menunjukkan barang bukti berupa mata uang asing dari tersangka penipu Dimas Kanjeng Taat Pribadi ketika ungkap kasus di Mapolda Jawa Timur, Jumat (7/10/2016). Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat

img_title Harta Dua Triliun Dimas Kanjeng Masih Misterius

Kisah penobatan Raja Dimas Kanjeng ini diceritakan oleh Hassan Ahsan Malik (Non Alek), putra dari KH Syaiful Islam atau Non Beng. Non Alek menceritakan, sebetulnya saat itu acara para raja se-Nusantara ialah di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Probolinggo.

“Penobatan raja acaranya di Genggong. Ada tiga orang di sini yang diberi gelar raja, salah satunya Abah saya. Soal kriteria raja, tanyakan ke ketua asosiasi para raja,” kata Non Alek ditemui VIVA.co.id pada Rabu malam, 12 Oktober 2016.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mendengar acara itu, Dimas Kanjeng mengutus orangnya, untuk dikomunikasikan agar para raja datang ke Padepokan. “Abah saya tidak mau menyampaikan, tapi memberikan nomor telepon ketua para raja itu. Disuruh agar menyampaikan sendiri,” jelas Non Alek.

Rupanya, Dimas Kanjeng berhasil mengajak para raja untuk bertandang ke Padepokannya. Keesokan harinya, acara penobatan Dimas Kanjeng sebagai Sri Raja Prabu Rajasanagara berlangsung. “Abah saya hadir seperti yang terlihat di TV-TV itu, karena diundang,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut