- ANTARA/M Risyal Hidayat
Soal kemampuan supranatural Dimas Kanjeng, Sekretaris Kecamatan, Sutrisno, punya ceritanya. Beberapa hari lalu, ada seorang keluarga pengikut Dimas Kanjeng datang ke Padepokan hendak menjemput kerabatnya yang masih bertahan. “Orang dari Pasuruan itu datang bersama seorang kiai,” kata Sutrisno.
Ketika menemui pengikut yang dimaksud, si kiai lalu melecutkan sorbannya ke kepala anggota Dimas Kanjeng yang hendak dijemput. Seketika itu juga orang yang akan dijemput tergelagap, seperti baru sadar dari tidur. “Dia seperti baru menyadari kenapa ada di tempat (padepokan) ini. Dari situ saya menganalisis, pengikutnya seperti terhipnotis,” cerita Sutrisno.
Selain cerita kewalian, Dimas Kanjeng juga diketahui menggunakan ‘baju’ kewibawaan untuk memikat para pengikutnya. Salah satunya dengan cara memperlihatkan keakraban dengan tokoh dan ulama yang disegani. Beberapa tokoh diundangnya ke padepokan untuk berceramah. Dia juga membuat acara penobatan raja untuk dirinya pada tahun 2014 lalu. Taat bergelar Sri Raja Prabu Rajasanagara.
![]()
Polisi menunjukkan barang bukti berupa mata uang asing dari tersangka penipu Dimas Kanjeng Taat Pribadi ketika ungkap kasus di Mapolda Jawa Timur, Jumat (7/10/2016). Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat
Kisah penobatan Raja Dimas Kanjeng ini diceritakan oleh Hassan Ahsan Malik (Non Alek), putra dari KH Syaiful Islam atau Non Beng. Non Alek menceritakan, sebetulnya saat itu acara para raja se-Nusantara ialah di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Probolinggo.
“Penobatan raja acaranya di Genggong. Ada tiga orang di sini yang diberi gelar raja, salah satunya Abah saya. Soal kriteria raja, tanyakan ke ketua asosiasi para raja,” kata Non Alek ditemui VIVA.co.id pada Rabu malam, 12 Oktober 2016.
Mendengar acara itu, Dimas Kanjeng mengutus orangnya, untuk dikomunikasikan agar para raja datang ke Padepokan. “Abah saya tidak mau menyampaikan, tapi memberikan nomor telepon ketua para raja itu. Disuruh agar menyampaikan sendiri,” jelas Non Alek.
Rupanya, Dimas Kanjeng berhasil mengajak para raja untuk bertandang ke Padepokannya. Keesokan harinya, acara penobatan Dimas Kanjeng sebagai Sri Raja Prabu Rajasanagara berlangsung. “Abah saya hadir seperti yang terlihat di TV-TV itu, karena diundang,” ujarnya.