- ANTARA/M Risyal Hidayat
Awal buka warung, Emma memasak nasi menghabiskan beras satu kuintal dan langsung habis. Semua pengikut padepokan diperintahkan makan di warungnya. “Warung yang lain, seperti di depan saya itu, langsung sepi. Saya masak lauk apapun langsung habis,” ucapnya.
Sejak Dimas Kanjeng ditangkap dan Padepokan tidak ada kegiatan, pendapatan Emma langsung melorot tajam. Betul, sekarang banyak orang berkunjung ke padepokan untuk melihat-lihat, tapi hanya beberapa yang mampir untuk makan. “Kalau sekarang, memasak beras satu kilo saja belum tentu laku,” ucapnya.
![]()
Tersangka Dimas Kanjeng Taat Pribadi digiring petugas usai melakukan rekontruksi di padepokannya Desa Wangkal, Gading, Probolinggo, Jawa Timur, Senin (3/10/2016). Foto: ANTARA/Umarul Faruq
Ajaran Dimas Kanjeng
Kamandanu mengatakan, sebetulnya inti dari janji Taat Pribadi kepada para pengikutnya ialah penggandaan uang. Warga desa setempat biasa menyebut dengan ‘Uang Kotakan’. Istilah itu terkonfirmasi dengan beberapa laporan korban penipuan Taat yang rata-rata diberi kotak kayu yang konon disebut ATM dapur.
Sejauh yang dia ketahui, setiap orang yang ingin menjadi anggota Padepokan Dimas Kanjeng diminta membayar uang pendaftaran sebesar Rp250 ribu. Itu di luar mahar. Soal iming-iming dan modus, kata dia, selalu berubah-ubah. “Misalkan bulan ini tidak cair, nanti modusnya yang disampaikan ke pengikut berbeda lagi,” katanya.
Untuk meyakinkan pengikutnya, para sultan menggambarkan sosok Dimas Kanjeng sebagai orang yang memiliki kelebihan. Bahkan, ada juga ritual pembersihan pengikut yang kadang dilakukan di laut atau pantai. “Sultan menggambarkan seperti pembersihan ala Nabi. Misalnya, memberikan istilah membelah dada pengikut lalu dibersihkan,” ucapnya.
Kamandanu mengaku pernah mendengar pidato doktrinasi Dimas Kanjeng ke pengikutnya. Taat kala itu menyampaikan bahwa di Desa Wangkal akan berdiri sebuah masjid yang digambarkan suci bernama Masjid Baitul Makmur. “Kalau di Mekkah ada Masjidil Haram, di Madinah ada Masjid Nabawi, kalau di Yerussalem ada Masjidil Aqsha, di Wangkal nanti ada Masjid Baitul Makmur. Saya tidak tahu masjid yang mana yang dimaksud,” katanya.
Dia mengaku tidak tahu ilmu apa yang dipakai Dimas Kanjeng, sehingga banyak pengikutnya seperti terhipnotis. Tapi dia menduga keahlian yang dipakai Dimas Kanjeng adalah ilmu jin. “Saya kira pakai bantuan jin. Tapi yang jelas kalau doktrinasinya ada di sebuah CD yang diberikan kepada semua pengikutnya,” kata Kamandanu.