- ANTARA/M Risyal Hidayat
“Enggak ada itu sekamar dengan muridnya. Kalau sekamar berdua kan pasti ada istrinya. Dia enggak pernah lepas dari istrinya. Jangan salah. Kalau Aa Gatot ada tuh kami senang dengarkan petuah-petuahnya. Makanya kalau dibilang begitu, waduuuh, naif banget,” ucapnya.
Apa yang diceritakan Wahyu berbeda dengan yang dialami artis Elma Theana. Menurut Elma, selama mengikuti Padepokan Gatot, ada sejumlah keanehan. Tak banyak interaksi yang terjadi antar sesama pengikut Gatot. Bahkan, Elma tak pernah bersinggungan langsung dengan Reza, apalagi saling bicara soal masalah. Semacam peraturan tak tertulis bahwa sesama pengikut Gatot tak boleh menceritakan masalahnya selain ke pendiri padepokan.
“Kami hanya ramai-ramai, tapi enggak bisa, kayak dibikin enggak mau tahu urusan orang atau masing-masing. Fokus kami hanya di Aa. Kami enggak saling bersinggungan,” ujar Elma saat berbincang dengan VIVA.co.id.
Kata Elma, kepada murid-muridnya, Gatot selalu memberikan ceramah agama. Awalnya, Elma saat itu merasakan aman dan nyaman saat mendengarkan petuah dari Gatot. Terlebih saat itu Elma sedang mengalami masalah keluarga. Sehingga dia membutuhkan orang yang dianggap mampu menyembuhkan psikologinya.
Tapi lama-kelamaan, Elma merasakan, petuah dan ceramah yang disampaikan Gatot banyak menyimpang. Namun, Elma merasa heran, dia dan murid-murid lainnya tidak bisa berbuat apa-apa. Seakan terhipnotis dengan ucapan Gatot.
“Itu kadang saya suka agak bingung yah. Ada melencengnya. Tadi ngomong gini, kok jadi gitu ya. Ada lah pokoknya. Tapi kami enggak bisa apa-apa,” ujar Elma.
Lima tahun keluar dari padepokan, Elma merasa hidupnya lebih tenang, karena bisa lebih dekat dengan keluarga. Maklum saja, selama di padepokan, Elma dicap tak peduli pada kerabat dan keluarga oleh kakaknya sendiri, Rency Milano.
Rency, yang lebih dulu ikut, menceritakan awal mulanya gabung dengan Padepokan Gatot. Ia ikut sebelum Gatot mendirikan padepokan di Jakarta. Awalnya tak ada yang aneh dari ajaran Gatot. Tapi, saat Gatot meniupkan aspat dari mulut ke mulut, saat itu pula ia keluar dari padepokan.