- ANTARA/M Risyal Hidayat
Non Alek mengakui bahwa Abahnya sering diundang berceramah di Padepokan Dimas Kanjeng. Non Alek sendiri mengaku dua kali melihat Dimas Kanjeng bertamu di kediaman Abahnya. “Menurut penuturan Abah saya, Abah datang ke sana dalam rangka diundang. Biasanya satu tahun sekali. Kalau tidak Isra Mi’raj, ya Maulid,” katanya.
Pernah awal tahun 2015 ada laporan bahwa Dimas Kanjeng melakukan penipuan. Abahnya langsung mengklarifikasi ke Dimas Kanjeng. “Menurut Abah saya, Dimas Kanjeng membantah menipu. Dimas Kanjeng mengatakan bahwa ingin membantu masyarakat. Ketika ditanya soal uang dari pengikut, mereka sukarela,” ucapnya.
“Jadi, Abah saya menganggap, menghukumi Dimas Kanjeng secara zahir. Abah sudah tabayun. Soal menipu atau tidak, itu urusan dia (Dimas Kanjeng) dengan Tuhan. Itu yang disampaikan Abah saya ke saya. Kalau saya sendiri, memang tidak tahu kegiatannya,” Non Alek menambahkan.
Menurut Non Alek, memang pengikut Dimas Kanjeng kadang terdengar berlebihan dalam menggambarkan sosok Taat Pribadi kepada pengikut dan warga. “Pengikutnya ini berlebihan. Katanya (Dimas Kanjeng) memiliki kemampuan melebihi kemampuan Kiai Hasan Sepuh (pendiri Pondok Pesantren Zainul Hasan). Katanya, kalau Kiai Hasan Sepuh bisa jadi tiga, Dimas Kanjeng bisa jadi lima. Ini berlebihan karena tidak ada buktinya,” tutur Non Alek.
![]()
Hassan Ahsan Malik alias Non Alek, putra dari KH Syaiful Islam atau Non Beng. Foto: VIVA.co.id/Nur Faishal
Menutup Diri
Sayang, saat ini tidak ada satu pun pengurus Dimas Kanjeng yang bisa dimintai keterangan soal Padepokan Dimas Kanjeng. Bahkan, pengikutnya yang masih bertahan di tenda-tenda area padepokan sangat menutup diri untuk berkomunikasi dengan orang luar, termasuk awak media. “Pengurusnya sudah lari semua sejak Taat ditangkap. Pengikutnya juga emosi dengan pemberitaan panutannya dan tidak mau lagi diajak bicara,” kata Sutrisno.
VIVA.co.id berusaha untuk mengajak bicara pengikut Dimas Kanjeng yang bertahan di tenda-tenda. Dua anggota berhasil ditemui dan mau ditegur sapa. Mereka juga mengakui berada dan tinggal di dalam tenda. Tapi ketika ditanya soal padepokan, mereka kompak menjawab, “Saya tidak tahu.”