- Pixabay/PublicDomainPictures
Berbeda dengan Rizky, Pada usia yang lebih kecil mainan anak-anak tidak melulu gadget atau yang berhubungan dengan teknologi. Garuda Diffy salah satunya. Siswa kelas satu SD berusia tujuh tahun ini tidak melulu bermain gadget, ia masih senang memainkan beberapa permainan yang melibatkan aktivitas fisik.
"Kalau di sekolah main bola, kalau di rumah main mobil-mobilan. Main game jarang, teman-teman di sekolah juga jarang main game," ujar Diffy.
Selain itu, Diffy juga masih mengenal beberapa mainan tradisional.
"Aku tahunya gasing sama egrang. Kalau gasing pernah main, tapi kalau egrang pernah lihat doang. Gasing diputar-putar, ada yang terbuat dari kayu atau besi. Aku pernah adu main gasing, tapi jarang. Lebih sering main bola," ujar Diffy.
Selanjutnya, mainan aneh dan unik digemari
Mainan aneh dan unik yang digemari
Selain permainan digital dan tradisional, ada fenomena tersendiri di kalangan anak-anak. Salah satu yang jadi primadona saat ini adalah permainan squishy dan slime. Bagi para orangtua yang memiliki anak di usia tujuh hingga 16 tahun mungkin pernah mendengarnya.
Squishy adalah mainan yang terbuat daru spons lembut yang jika ditekan-tekan mempunyai kemampuan untuk kembali ke bentuk semula. Awalnya mainan ini berbentuk bulat dan berfungsi sebagai terapi penghilang stres. Ketika digemari, mainan ini mulai diproduksi dengan bentuk yang disukai anak-anak dan bisa digunakan sebagai gantungan kunci.
Satu lagi adalah slime. Berbentuk gumpalan cairan kental dan kenyal namun tidak basah dan tidak lengket. Tidak jelas bagaimana memainkan mainan ini, yang jelas slime awalnya digunakan sebagai pembersih keyboard komputer atau pembersih yang bisa menjangkau sela-sela sekalipun. Setelah disukai anak-anak, kini slime dibuat dengan beragam warna dan gliter.
Kedua mainan ini merupakan item yang paling diburu anak-anak sebagai koleksi.
Mimi (12) salah satu penggemar slime dan squishy. Siswi kelas 1 SMP ini mengaku, senang bermain squishy dan slime sehingga jarang main permainan lainnya.
![]()
"Kalau permainan tradisional, sudah susah mainnya, sudah enggak ada teman sebaya," tuturnya. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)