SOROT 446

Wayang Orang yang Melegenda

Salah satu agedang pagelaran wayang orang di Gedung Kesenian Jakarta.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Nurcholis Anhari Lubis

VIVA.co.id – Suasana di dalam gedung Pewayangan Kautaman Taman Mini Indonesia Indah mendadak senyap. Hari beranjak siang. Saat itu, Senin 24 April 2017.  

img_title Penampilan Kapolri, Panglima dan 3 Kepala Staf TNI Jadi Wayang Orang

Keriuhan pendukung pementasan kelompok wayang orang Sriwedari sebelum gladi resik dimulai perlahan hilang. Berganti dengan keheningan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lamat-lamat suara gamelan terdengar. Para pemain, pengrawit atau penabuh gamelan, dan kru wayang orang Sriwedari mulai menyatu. Memadu gerak gladi resik jelang pementasan. 

img_title Panglima TNI Sampai Kapolri, Tampil di Pagelaran Wayang Orang Pandowo Boyong

Cerita tentang Arjuna dengan lakon “Mintaraga” perlahan mengalir. Pemain pun melakoni peran dengan khidmat.  

Wayang Orang

img_title Anies Bersyukur Wayang Orang Bharata Memasuki Usia 50 Tahun

Pada pagelaran wayang orang, para pemain akan selalu menari seiring dengan jalan cerita. (VIVA.co.id/Nurcholis Anhari Lubis)

Pemain dan penari meliukkan tubuhnya secara pelan namun indah, membawa imajinasi penonton pada kisah Ramayana dan Mahabharata. Adegan demi adegan dilakukan sepenuh hati, serasa terlempar jauh ke masa lalu dan berjarak dengan hiruk pikuk dunia kekinian. Meski baru gladi resik, semua pemain memberikan totalitas pada setiap peran yang mereka jalani. 

Mintaraga atau Ciptoning, mengisahkan Arjuna yang sedang bertapa mencari jati diri. Dalam pertapaannya itu, ia mendapatkan berbagai ujian atau cobaan dari para dewa melalui aneka macam perwujudan. Tujuannya untuk menguji seberapa teguh niat Arjuna untuk mencapai tujuannya. Arjuna berhasil melalui semua godaan, sehingga ia dipilih oleh dewa-dewa untuk menjadi “Jagonya Dewa”.  

Arjuna diberi tugas melawan raksasa yang bernama Niwoto Kawojo. Saat itu, Niwoto Kawojo telah mengobrak-abrik Kahyangan karena ingin mempersunting bidadari bernama Subpraba. Padahal, bukan ranahnya raksasa memperistri seorang bidadari.

Lakon Mintaraga memiliki pesan bahwa seseorang yang sudah mencapai tingkatan tertinggi, seperti raksasa Niwoto Kawojo dan Begawan Ciptoning, yang sama-sama memiliki kesaktian luar biasa, sesungguhnya masih bisa dipertanyakan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Apakah mereka yang sudah mencapai tingkatan seperti itu sudah menjalani perannya sesuai dengan kodratnya? Sesuai dengan titahnya dengan sesama manusia, titahnya dengan alam semesta, juga titahnya dengan Tuhan?

Umumnya, cerita wayang memang selalu penuh dengan filosofi. Pesan-pesan moral yang pas untuk menjalani kehidupan kerap muncul melalui dialog, adegan, juga dari tema utuh. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut