SOROT 448

Janji Khilafah, Bukti Tak Semanis Mimpi

Aksi mahasiswa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) saat menolak kedatangan Lady Gaga ke Indonesia, di Bundaran HI, Jakarta.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Muhamad Solihin

VIVA.co.id – Pria berusia 43 tahun itu terdiam sejenak, sepertinya ia mencoba memilih kata yang tepat. Tapi kemudian dengan tegas ia mengatakan, "Menurut saya tak masalah HTI dibubarkan. Itu organisasi yang tak jelas solusinya," ujarnya dengan nada tinggi. Tak sedikit pun terdengar nada ragu dari apa yang ia sampaikan.

img_title Kombes Ade Ary Ungkap Peran Pelaku Pembubaran Diskusi Refly Harun Cs yang Baru Ditangkap

Pria itu, Dedi Afrianto, mengaku pernah aktif selama setahun dalam kegiatan pengajian di Hizbut Tahrir. "Biasanya kita pengajian halaqah atau liqo di rumah. Bisa rumah siapa saja. Satu kelompok saya hanya lima orang peserta, dan satu ustaz yang mengajar," tuturnya kepada VIVA.co.id, Jumat, 12 Mei 2017.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dedi mengaku ikut pengajian di kelompok HTI karena ingin mendalami Islam. Tapi setelah satu tahun rutin menjalani ia melihat HTI tak memberikan solusi pada anggotanya. "Ustadz saya miskin sekali, mau sekolahkan anak ke pesantren saja dia enggak punya uang. Dan tak ada solusi yang diberikan organisasi ini untuk membantunya secara ekonomi. Kita terus dijejali mimpi, kelak jika negara khilafah berdiri, maka hidup akan nyaman, tenteram dan damai," ujar Dedi.

img_title Ditanya Bakal Normalisasi HTI dan FPI Bila Jadi Presiden, Begini Jawaban Anies Baswedan 

Kantor DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang berada di Tebet, Jakarta Selatan

Kantor DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang berada di Jalan Prof. Soepomo Tebet Jakarta Selatan. (VIVA.co.id/Mustakim)

img_title Singgung HTI dan FPI, Said Aqil: Berat Amanat Moderasi 2 Kutub Ekstrem

Tapi bagi Dedi, janji soal negara khilafah, atau negara yang menegakkan syariat Islam itu tak bisa memecahkan persoalan hari ini, seperti persoalan ekonomi yang dihadapi ustadznya. "Mau bekerja sebagai PNS atau  di lingkungan pemerintahan ngga boleh, karena itu thoghut. Mau jadi karyawan swasta susah, karena harus lihat, apakah perusahaan itu milik Yahudi atau Nasrani. Mau kerja di bidang migas dilarang, karena migas hanya boleh dikuasai oleh khilafah kelak. Tapi kesusahan ekonomi pada pengikutnya tak dibantu solusi," celotehnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dan hal yang paling membuat Dedi kecewa adalah karena organisasi ini selalu mengaku sebagai organisasi dakwah, padahal aktivitasnya adalah politik. Kekecewaan itu yang akhirnya membuat Dedi memilih mundur setelah satu tahun setia mendatangi pengajian HTI.

Soal aktivitas politik HTI di Indonesia sebenarnya sangat kentara, terutama sepanjang satu tahun terakhir. Menjelang Pilkada DKI 2017, kelompok yang tercatat sebagai organisasi massa ini ikut turun berdemonstrasi bersama elemen Islam lain yang segaris menolak Ahok menjadi Gubernur DKI.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut