- VIVA.co.id/ Muhamad Solihin
Bagi Dedi yang pernah menjalani kehidupan yang ditawarkan HTI, penolakan Rokhmat Labib soal HTI sebagai gerakan politik adalah tak benar, dan ide khilafah itu masih absurd. "HTI jelas gerakan politik. Buat sebuah mimpi dan visi, ide khilafah itu mungkin bagus. Tapi apa yang bisa ditawarkan untuk kehidupan hari ini? Bagaimana HTI bisa memberikan kehidupan yang sejahtera buat pengikutnya hari ini?" tanya Dedi.
"Orang disuruh berpolitik tapi kehidupannya tak diperhatikan. Memanfaatkan orang untuk berpolitik. Mendoktrin visi yang jauh, kelihatannya besar, tapi kondisi sekarang tak disejahterakan," ujarnya dengan nada suara sedikit bergetar.
Rokhmat Labib mungkin tak pernah tahu keluhan yang disampaikan Dedi. Seperti pemerintah, Dedi juga menganggap apa yang disampaikan HTI adalah kegiatan politik, bukan dakwah. Dan itu sebabnya, setelah setahun menjalani ia memilih meninggalkan organisasi itu dan tak tertarik untuk bergabung lagi.
"Masalah kesejahteraan dan kemiskinan adalah hal yang harus ditanggulangi. Ketimbang sibuk bermimpi menegakkan khilafah, mungkin lebih baik HTI berbuat nyata dulu buat umat dan membuat umat menjadi sejahtera," ujarnya. (umi)