- VIVA.co.id/ Muhamad Solihin
Mulai dari Aksi Bela Islam 411, 212, 112, 313, dan terakhir 505, HTI bergabung dengan ratusan ribu umat Islam. Di setiap aksinya kelompok ini selalu membawa bendera-bendera berwarna hitam dengan tulisan dua kalimat syahadat berwarna putih. Bendera itu adalah identitas resmi seluruh pengikut Hizbut Tahrir di seluruh dunia.
Selanjutnya, Sejarah Hizbut Tahrir
Sejarah Hizbut Tahrir
Sejatinya, kelompok Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI adalah bagian dari jaringan Hizb-ut-Tahrir. Organisasi ini berdiri pada tahun 1953 di Baitul Maqdis, Palestina. Pendirinya adalah Taqiuddin al-Nabhani. Taqiyudin an Nabhani lahir pada tahun 1909 di Ijzim, Palestina. Ia terlahir dari keturunan Yusuf an Nabhani, seorang syaikh dan ulama besar di Turki Ustmani. Sejak awal, Taqiyudin mendapat pelajaran langsung dari ayahnya, Ibrahim bin Musthafa bin Ismail bin Yusuf an Nabhani, yang juga seorang ulama.
Â
Kegelisahan Taqiyudin atas kondisi umat Islam telah dimulai sejak ia mengikuti perjalanan Perang Dunia I. "Runtuhnya Khilafah Ustmaniyah pada tahun 1924 dianggapnya sebagai sebuah kejatuhan besar umat Islam. Taqiyudin yang saat itu berusia 15 tahun menilai, setelah Khalifah Ustmaniyah hancur, maka Islam menjadi terpecah belah dan tunduk pada imperialisme Barat dan Eropa," tulis M Mulyaji, seorang peneliti HT dari UIN Surabaya dalam makalahnya.
Taqiyudin yang belajar ilmu hukum di Universitas Al Azhar melanjutkan karirnya sebagai hakim. Tahun 1945 ia diangkat menjadi hakim di Ramallah, Palestina. Pengesahan PBB soal pembagian tanah antara Palestina dan Israel pada tahun 1947, yang dilanjut dengan deklarasi kemerdekaan Israel pada 1948 dan pengakuan PBB dan Amerika atas pengakuan itu membuat Taqiyudin marah. Rentetan peristiwa itu menjadi cikal bakal berdirinya HT.
Taqiyudin An Nabhani melihat resolusi PBB soal tanah Palestina adalah sebuah kegagalan umat Islam karena memilih berkompromi dengan Eropa dan Barat. Ia terus mengkaji kegagalan itu, dan dua tahun kemudian menuangkan pemikirannya dalam buku Inqadzu Falisthin (Membebaskan Palestina).
Sejak buku itu terbit, Taqiyudin terus menularkan pemikirannya. Posisinya sebagai hakim membuatnya memiliki keluasan wewenang untuk mendatangi majelis ilmu, menjadi khatib salat Jumat, dan membuat diskusi. Setiap ada kesempatan, ia kerap menyerang sistem pemerintahan negara Arab dan Timur Tengah. Pemikiran dan sikapnya yang melawan membuatnya dipanggil oleh Raja Yordania, Abdullah bin al Hussain. Raja mempersoalkan aktivitas dakwahnya.