- VIVA.co.id/Purna Karyanto
Sebenarnya jika ditarik mundur ke belakang, awal munculnya mobil keluarga buat masyarakat Indonesia adalah Station Wagon, impor dari Amerika. Tapi belakangan Station Wagon sudah tidak populer. Karena sewaktu itu banyak yang gengsi dan merasa lebih baik naik sedan.
Kelahiran Kijang juga nyaris bersamaan dengan produk Nissan-Datsun, namun mereka tidak bertahan hingga membuat imej Kijang kuat sekali. Terlebih masyarakat menerimanya sebagai kendaraan keluarga.
Dalam buku "Indonesian Customer Satisfaction: Membedah Strategi Kepuasan Pelanggan Merek" tulisan Handi Irawan, pada 1980-an Toyota Kijang menjelma menjadi mobil keluarga yang punya banyak peminat. Gempuran iklan yang menggambarkan bahwa mobil ini sebagai mobil keluarga yang memuat banyak orang di dalamnya sukses memosisikan diri.
Usai kemunculan Toyota Kijang, banyak pemain lain yang lalu berlomba untuk menghadirkan mobil dalam bentuk van, MPV atau family car. Persaingan pun lantas makin ketat hingga bergulir ke era reformasi.Â
Persaingan makin tinggi terutama dipicu oleh kebijakan pemerintah era reformasi yang membuka keran persaingan industri mobil Indonesia. Kebijakan ini telah membuat hadirnya berbagai merek-merek mobil non sedan baru di pasaran Indonesia.
Mobil-mobil baru tersebut di antaranya adalah Mitsubishi Kuda, Daihatsu Taruna, KIA Carnival, Hyundai Trajet, dan lainnya. Belakangan mobil-mobil keluaran baru ini mulai dilirik oleh konsumen selain Toyota Kijang atau bahkan Isuzu Panther.
Munculnya beberapa mobil baru dengan jenis yang sama, tentu merupakan ancaman bagi Toyota Kijang sebagai pemimpin pasar atau market leader di kelasnya. Ancaman ini bukan saja dari rival sejenis seperti Kuda dan Panther, tetapi juga datang dari bawah, semisal Karimun, serta dari atas seperti Hyundai Trajet atau KIA Carnival.Â
Tak ketinggalan Honda Stream turut 'berbecek' ria mengambil pangsa pasar Kijang Krista dan LGX. Saat itu, konsumennya datang dari kalangan yang membutuhkan mobil keluarga tetapi senyaman sedan.
Hantaman yang berasal dari samping, bawah dan atas menyebabkan pangsa pasar Kijang sedikit goyah. Akibatnya terjadi penurunan pangsa pasar atau market share Toyota jenis non sedan dari 26,7 persen pada 2001 menjadi 25,2 persen pada 2002.