Iko Uwais: Daripada Aktor, Saya Lebih Nyaman Disebut Fighter!

Iko Uwais
Iko Uwais
Sumber :
  • Netflix

Beban banget, apalagi ini film pertama saya jadi lead actor berbahasa Inggris. Alhamdulillah adaptasi dibantu juga oleh coaching actor, dia sangat membantu saya. Memang ada perbedaan, saat kita ngomong Bahasa Inggris dengan ketika kita lagi baca skrip. 

Mereka juga punya aksen, jadi ada perbedaan tiap kata, penyebutannya salah, itu banyak banget saya belajar di sana. Bukan hanya belajar akting, saya juga banyak banget belajar Bahasa Inggris di sana.

Ceritain dong kesulitan-kesulitannya selama syuting!

Saya didampingi sama Abraham (acting coach), memang saya udah baca naskahnya. Jadi misal, 2 minggu ini saya harus syuting 2 episode dari 1 sutradara, jadi saya harus menghapal keseluruhan skrip 1 sampai 2. 

Itu sama seperti saya sekolah, saya pikir saya udah lulus sekolah ya, Mbak, hahaha.  Tapi pas sekarang, kerjaan saya (sama kayak sekolah). Saya balik lagi ke skrip, ke buku, saya harus baca-baca. Ternyata teori di sekolah saja enggak cukup, harus sekolah dengan pengalaman. 

Apa benar kabarnya enggak pakai stuntman untuk adegan laga?

Ya, benar. Saya bawa teman, bawa tim. Untung saya bawa tim, karena di series ini kayaknya impossible kalau saya mengerjakan semuanya sendiri. Dan waktunya juga enggak bisa, karena saya harus ngebuat koreo, semua episode, semua adegan, semua karakter, semua pemain. Lalu saya harus belajar, baca buku, baca script, akting. 

Kalau di film, (gerakan) udah terencana. Kalau di sini enggak, hari itu kita bikin, hari itu kita buat, hari itu kita bikin video board, hari itu kita syuting. 

Saya udah enggak ada waktu lagi (bikin gerakan), jadi yang buat koreo temen-temen. Mereka bikin koreo mentahnya pakai handphone, kasih lihat ke saya. Begini (kasih unjuk handphone), paling saya tinggal menyesuaikan dari segi gerak dan kartakter fighter masing-masing. 

Wah, keren banget, Bang! Gimana cara menyinkronkan gerakan dan chemistry-nya?

Anak-anak (Uwais Team) udah paham. Mereka buat aja, saya enggak pernah latihan, jadi on set, langsung main. Sentuhan udah hapal, udah dapat chemistry-nya.