Indonesia Targetkan Setop Penjualan Motor Bensin di 2040

Ilustrasi motor bekas
Ilustrasi motor bekas
Sumber :
  • VIVA/Yunisa Herawati

VIVA – Pemerintah Indonesia sudah merencanakan net zero emission (NZE) pada tahun 2060. Dalam rencana tersebut motor konvensional atau berbahan bakar bensin akan hilang, disusul oleh mobil konvensional.

Saat ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini sedang menyusun peta jalan hadapi perubahan iklim di masa mendatang. Nah, targetnya dengan bebas emisi gas buang.
 
"Transformasi menuju net zero emission menjadi komitmen bersama kita paling lambat 2060. Kami telah menyiapkan peta jalan transisi menuju energi netral mulai tahun 2021 sampai 2060 dengan beberapa strategi kunci," kata Menteri ESDM, Arifin Tasrif, di situs resmi Kementerian ESDM.

Menteri ESDM Arifin Tasrif di acara uji terbang bahan bakar bioavtur 2,4 persen untuk pesawat CN235

Menteri ESDM Arifin Tasrif di acara uji terbang bahan bakar bioavtur 2,4 persen untuk pesawat CN235

Photo :
  • Tangkapan Layar/Pras

 
Dalam mencapai target nol emisi, Pemerintah menerapkan lima prinsip utama yaitu peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), pengurangan energi fosil, kendaraan listrik di sektor transportasi, peningkatan pemanfaatan listrik pada rumah tangga dan industri, dan pemanfaatan Carbon Capture and Storage (CCS).
 
Arifin menguraikan tahapan pemerintah menuju capaian target nol emisi. Di tahun 2021, pemerintah akan mengeluarkan regulasi dalam bentuk Peraturan Presiden terkait EBT dan retirement coal. "Tidak ada tambahan PLTU baru kecuali yang sudah berkontrak maupun sudah dalam tahap konstruksi," urainya.

Pada 2022 akan adanya Undang-Undang EBT dan penggunaan kompor listrik untuk 2 juta rumah tangga per tahun. Selanjutnya, pembangunan interkoneksi, jaringan listrik pintar (smart grid) dan smart meter akan hadir di tahun 2024 dan bauran EBT mencapai 23 persen yang didominasi PLTS di tahun 2025.
 
Pada tahun 2027, pemerintah akan memberhentikan stop impor LNG dan 42 persen EBT didominasi dari PLTS di 2030 dimana jaringan gas menyentuh 10 juta rumah tangga, kendaraan listrik sebanyak 2 juta (mobil) dan 13 juta (motor), penyaluran BBG 300 ribu, pemanfaatan Dymethil Ether dengan penggunaan listrik sebesar 1.548 kWh/kapita.
 
Semua PLTU tahap pertama subcritical akan mengalami pensiun dini di tahun 2031 dan sudah adanya interkoneksi antar pulau mulai COD di tahun 2035 dengan konsumsi listrik sebesar 2.085 kWh/kapita dan bauran EBT mencapai 57 persen dengan didominasi PLTS, Hydro dan Panas Bumi.

Penjualan Motor Disetop

Ilustrasi naik motor sambil membawa payung.

Ilustrasi naik motor sambil membawa payung.

Photo :
  • Businessstandard

 
Lalu di 2040, bauran EBT sudah mencapai 71 persen dan tidak ada PLT Diesel yang beroperasi, Lampu LED 70 persen, tidak ada penjualan motor konvensional, dan konsumsi listrik mencapai 2.847 kWh/kapita.
 
Lima tahun berikutnya, pemerintah mewacanakan akan ada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama mulai COD. "Kita juga mempertimbangkan penggunaan energi nuklir yang direncanakan dimulai tahun 2045 dengan kapasitas 35 GW sampai dengan 2060," ujar Arifin.
 
Selanjutnya, bauran EBT diharapkan sudah mencapai 87 persen di 2050 dibarengi dengan tidak melakukan penjualan mobil konvensional dan konsumsi listrik 4.299 kWh/kapita. Terakhir, pada 2060 bauran EBT telah mencapai 100 persen yang didominasi PLTS dan Hydro serta dibarengi dengan penyaluran jaringan gas sebanyak 23 juta sambungan rumah tangga, kompor listrik 52 juta rumah tangga, penggunaan kendaraan listrik, dan konsumsi listrik menyentuh angka 5.308 kWh/kapita.