Digitalisasi UMKM di Masa Pandemi COVID-19

Ilustrasi UMKM (finance.detik.com)
Ilustrasi UMKM (finance.detik.com)
Sumber :
  • vstory

VIVA – Covid-19 merupakan salah satu penyakit menular yang terjadi di berbagai negara. World Health Organization (WHO) menetapkan bahwa Covid-19 sebagai pandemi dunia karena dapat menular dengan sangat cepat.

Termasuk di Indonesia, pada 2 Maret 2020 diumumkan secara resmi oleh Presiden Indonesia bahwa terdapat dua kasus positif Covid-19. Pandemi ini menyebabkan adanya kebutuhan berbagai kebijakan yang harus diambil oleh pemerintah di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah mengambil kebijakan untuk menghentikan penyebaran Covid-19, di antaranya himbauan untuk menjaga jarak, dan pembatasan sosial berskala besar.

Pandemi Covid-19 yang telah mewabah di seluruh lapisan dunia itu memberi banyak dampak pada semua sektor kehidupan masyarakat. Indonesia merupakan salah satu negara yang terkena dampak pada semua sektor terutama sektor ekonomi yang selama ini sudah menjadi tumpuan bagi masyarakat.

Salah satu bagian terpenting dari sektor ekonomi yang merasakan dampaknya yaitu sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sektor UMKM menyumbang porsi yang besar untuk PDB nasional dan juga menyerap tenaga kerja.

Diketahui bahwa 99% pelaku usaha di Indonesia merupakan sektor UMKM. Tidak heran jika sektor UMKM di Indonesia merupakan pilar terpenting bagi sektor ekonomi. UMKM juga telah berkontribusi terhadap PDB Nasional sebesar 60?n 97% terhadap penyerapan tenaga kerja yang terkena dampak pandemi Covid-19.

Jika dilihat peristiwa krisis ekonomi 1998, kontribusi pada sektor UMKM memiliki pengaruh positif untuk menyelamatkan ekonomi Indonesia pada saat itu. Demikian juga pada saat pandemi Covid-19, sektor UMKM juga harus dapat berpotensi besar untuk akselerator pemulihan ekonomi Indonesia.

Pada saat ini banyak pelaku UMKM yang mengalami berbagai permasalahan, seperti penjualan menurun, terhambatnya distribusi, penurunan produksi, bahan baku menjadi sulit, permodalan, dan terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hal itu yang akan menjadi ancaman untuk perekonomian nasional. Berdasarkan survei pada Asian Development Bank (ADB) terkait dampak pandemi Covid-19 terhadap UMKM di Indonesia, 88% usaha mikro kehabisan kas atau tabungan, dan lebih dari 60% usaha mikro kecil ini sudah mengurangi tenaga kerjanya.

Hal tersebut terjadi karena pandemi Covid-19 membuat daya beli masyarakat mengalami penurunan. Penurunan tersebut disebabkan karena publik sudah melakukan pembatasan kegiatan sosial untuk menekan penyebaran pandemi Covid-19. Oleh karena itu, sebagian besar konsumen memilih untuk menjaga jarak dan mengalihkan pembelian dengan digital.

Halaman Selanjutnya
img_title
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.