Target Kami #2019GantiParlemen
- VIVA/M Ali Wafa
Seperti kasus di Makasar, kotak kosong menang?
Iya, itu salah satu kasus yang luar biasa. Kalau sampai nanti di perhitungan akhir benar terjadi demikian, ini akan sangat memalukan. Ada 10 partai ngeblok sama seseorang, dan dikalahkan sama rakyat yang tidak memilihnya. Dan Partai Berkarya tidak ikut pada 10 partai yang tidak dipilih oleh rakyat itu. Fenomena ini menunjukan ada sesuatu yang besar telah terjadi, artinya ada situasi unpredictable.
Sebagai seorang politisi, menurut Anda apa yang menyebabkan itu terjadi?
Sebenarnya jawabannya sudah tahu kita semua. Bahwa ada anomali, ada sesuatu seperti invisible hand dalam arti menjadi faktor-faktor yang sebenarnya bisa kita terka. Semua peristiwa Pilkada ini seperti memberikan amunisi optimis bagi partai baru seperti Berkarya ini untuk menunggu panennya limpahan simpati dari masyarakat. Dan Partai Berkarya siap menerima operan kepemimpinan, di parlemen setidaknya, karena kami belum boleh mengusung capres pada pilpres nanti, jika rakyat bisa mempercayai.
![]()
Dari hasil quickcount sudah bisa tergambarkan peta politik perolehan suara pada Pilkada tahun ini. Bagaimana Anda melihat itu dengan peta koalisi Pilpres 2019 nanti?
Sekarang semua pemberitaan sepertinya hanya ada dua kutub saja pada pertarungan pilpres nanti. Karena dua kutub ini seolah-olah sudah dari sananya, sudah seperti suratan takdir, hanya ada kutub Jokowi, satunya kutub Prabowo, dan yang lainnya maaf hanya bisa memberikan dukungan saja kan. Tapi justru ketika itu dimunculkan kemudian saya menangkap di publik atau di tengah masyarakat mulai terjadi pertanyaan balik, apakah demokrasi, apakah undang-undang, apakah treshold-treshold itu berwenang untuk menahan aspirasi-aspirasi rakyat? Ini kan gara-gara partai-partai besar itu yang sebelumnya saya pernah berada di situ itu yang mengakal-akali memutuskan presiden treshold begitu tinggi yang hanya memungkinkan incumbent dan satu orang lagi, sudah. Jadi seperti digiring masyarakat seperti tidak ada pilihan lain lagi.
Presidential Treshold yang sekarang merugikan?
Dan kita tahu juga bahwa itu menimbulkan berbagai bentuk protes, diantaranya sekelompok tokoh-tokoh sipil yang saat ini melakukan judicial review ke MK, mereka menggugat ingin treshold-treshold itu dihapus menjadi 0 persen. Apa yang terjadi kalau 0 persen? Bubar itu semua dua poros itu. Dalam politik itu kan semua kemungkinan bisa terjadi, ketika masing-masing dua kutub ini menentukan calon wakilnya secara definitif, koalisi yang selama ini mereka bangun juga bisa mengalami kegoncangan, dan kegoncangan itu bisa saja melahirkan kutub ketiga, jadi semuanya masih bisa saja terjadi. Tapi ada yang menarik, adalah, jika kemudian karena MK sudah memutuskan Wakil Presiden Pak Jusuf Kalla tidak boleh lagi maju menjadi capres, ini menjadi menarik karena kalau tokoh sekaliber Pak Jusuf Kalla memutuskan maju sebagai calon presiden, peta juga akan menjadi sangat dinamis.