Dubes RI untuk Arab Saudi Abdurrahman Mohammad Fachir

Soal Satinah, Upaya Pemerintah Sudah Luar Biasa

Abdurrahman Mohammad Fachir, Wakil Menteri Luar Negerii RI.
Sumber :
  • VIVAnews / Renne Kawilarang

Belum lagi, mereka juga menghabiskan dana untuk berbelanja di sana, di mana perputaran uang itu juga menghidupi warga Saudi.

Da,n tenaga kerja Indonesia di sana membantu produktivitas Saudi. Karena di sana, warga Saudi tidak begitu produktif. Warga Indonesia lah yang bekerja menjadi supir dan menjalani berbagai profesi yang membuat hidup warga sana menjadi lebih nyaman.

img_title Konflik Hak Asuh Anak dengan Ruben Onsu Makin Memanas, Sarwendah Buat Aduan ke UPTD PPA, Ini Isinya

Abdurrahman Mohammad Fachir Duta Besar Dubes RI untuk Arab Saudi

Penyebab kaum muda Saudi tidak produktif apakah lantaran mereka tidak ingin bekerja di sektor informal?

Bisa jadi seperti itu. Ketika kita bilang 15 persen penghasilan Saudi dari umroh dan hajinya orang Indonesia, sebagai orang menengah ke atas, mereka berpikirnya hanya sebesar itu saja ya? Loh, pasalnya kan penghasilan Saudi per kapita berbeda dengan Indonesia. Itu kalau melihat dari sudut pandang tersebut.

Tetapi, kalau kita menggunakan sudut pandang bahwa Indonesia dan Saudi sama-sama merupakan anggota G20 dan posisi Indonesia lebih tinggi daripada Saudi. Katakanlah begitu, karena di G20 ada tingkatan-tingkatannya. Dari sudut pandang itu, maka publik akan berpikir penduduk Indonesia berasal dari kalangan menengah ke atas.

Persepsi itu yang ingin saya bentuk dan itu sebuah pekerjaan. Untuk itu, maka kami harus mendekati para tokoh tadi.

Apakah itu akan menjadi jurus Anda saat bertugas di Saudi?

Ya Insya Allah lah. Itu salah satunya, antara lain jangan sampai terkesan seolah-olah bahwa Indonesia memerlukan Saudi dan memandang penting Saudi.

Sementara itu, dari sisi hubungan dan kerja sama, malah Saudi yang diuntungkan. Kalau orang yang diuntungkan, biasanya mereka lebih berkepentingan.

Jadi seharusnya posisi itu dibalik ya?

Iya. Tapi karena Saudi merasa sudah cukup. Kalau mereka hanya memperoleh keuntungan yang sedikit, maka hal itu tidak diperhitungkan.

Rata-rata katakanlah 900 ribu orang ke Saudi setiap tahun untuk haji dan umroh, bisa dibayangkan dalam lima tahun, sudah berapa banyak pemasukan ke kas Saudi. Hal seperti itu yang harusnya ditampilkan.

Apakah tidak memungkinkan bagi Indonesia untuk mendatangkan warga Saudi dalam jumlah yang mendekati ke tanah air?

Loh, kita kan tidak memiliki Mekkah dan Madinah. Permasalahannya kan itu.

Apa yang disukai warga Saudi dari Indonesia?

Mereka itu senang mengetahui bahwa agama Islam berkembang dengan baik di tanah air. Jadi, ada suasana keagamaan, karena kan punya misi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut