Soal Satinah, Upaya Pemerintah Sudah Luar Biasa
- VIVAnews / Renne Kawilarang
Jadi, perlindungan dalam pengertian apabila ada WNI yang mengalami kasus hukum, dipastikan untuk diberikan pendampingan. Oleh sebab itu, kami memiliki pengacara di Saudi.
Dan, karena hukum yang berlaku di sana menggunakan hukum Saudi, maka kami menyewa pengacara Saudi. Tidak mungkin kami sewa pengacara dari Jakarta.
Persepsi Saudi
Seberapa terkenal Indonesia di mata warga Saudi?
Ini kembali lagi ke soal persepsi tadi. Persepsi kita mengenai Saudi seperti apa? Sama dengan persepsi masyarakat umum Saudi terhadap Indonesia.
Saya mengambil ilustrasi yang agak jauh ya. Ketika Mesir pada waktu itu menghadiri Konferensi Liga Arab untuk memberikan dukungan pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia. Pada waktu itu, Menteri Luar Negeri dijabat oleh Pangeran Faisal.
Lalu, di dalam pembahasan itu dia bertanya, "Apakah kita semua yang ada di dalam forum ini tahu lokasi Indonesia itu ada di mana?"
Jadi, yang ada di dalam benak mereka, di daerah timur sana, ada sebuah negeri, -- dulu Indonesia masih belum dikenal dan tercatat di peta. Masih disebut Hindia Belanda-- namanya Indonesia dan masyaratnya mayoritas muslim, mari kita dukung kemerdekaan mereka.
Sesederhana itu. Itulah persepsi. Jadi, dulu mereka tidak pernah mempertanyakan alasan mendukung kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda.
Itu yang saya bilang persepsi. Sejak Nabi Ibrahim memproklamirkan bahwa umat Muslim harus berangkat dan menunaikan haji di sana, ya kita berangkat ke sana. Saya pikir, pemerintah perlu mengedukasi.
Terutama melalui tokoh-tokoh. Kalau umpamanya, saat khotbah Jumat, dia mengatakan "mereka semua (pekerja asal Indonesia) juga adalah saudara kita", yang kemudian membantu kita semua di sini. Lalu mereka mengajak agar memperlakukan warga Indonesia lebih baik.
Tetapi, warga Indonesia pun juga harus memahami tradisi, kebiasaan, adat istiadat yang berlaku di Saudi. Warga Saudi yang menganggap kita setara luar biasa banyaknya. Bahkan, ada pekerja asal Indonesia yang dibantu biaya pernikahan dan diberikan hadiah. Cerita sukses semacam itu juga tidak sedikit. Belum lagi, apabila kita berbicara mengenai remitansi kan?
Nah, itu hanya satu sisi, hubungan RI dengan Saudi. Kita tinggal mengatur persepsi seperti apa yang ingin ditampilkan. Apakah masyarakat Indonesia yang berumroh, naik haji atau sisi ekonominya.
Makanya, kami berharap perwakilan Saudi di Jakarta dengan di Riyadh memiliki pemahaman yang komprehensif. Kami ingin menampilkan bahwa masyarakat Indonesia itu berasal dari kalangan menengah ke atas, karena yang datang ke Saudi untuk beribadah umroh dan haji setiap tahun jumlahnya mencapai ratusan ribu.