Soal Satinah, Upaya Pemerintah Sudah Luar Biasa
- VIVAnews / Renne Kawilarang
Berdasarkan sistem hukum di Saudi, hukuman mati ini bisa dibatalkan bila Satinah mendapat pengampunan dari keluarga korban. Namun, itu setelah membayar uang diyat (ganti rugi) yang nilainya miliaran rupiah. Soal Satinah ini termasuk tantangan pertama bagi Fachir sebagai dubes baru RI di Saudi.
Â
Dalam percakapan dengan VIVAnews di Jakarta, sebelum bertolak ke Saudi, Dubes Fachir juga bercerita panjang lebar soal potensi hubungan yang bisa dikembangkan kedua negara, sehingga tidak melulu hanya masalah haji dan nasib tenaga kerja Indonesia.
"Saya ingin mengubah persepsi yang selama ini terbentuk bahwa RI seolah-olah membutuhkan Saudi. Padahal, 15 persen penghasilan Saudi diperoleh dari jemaah haji dan umroh asal Indonesia," ungkap Fachir.
Berikut petikan wawancaranya:
Persepsi masyarakat di Indonesia terhadap hubungan bilateral Indonesia dan Arab Saudi masih belum jauh dari umroh, haji, pasti TKI atau TKW. Apakah masih ada potensi lain yang bisa digali selain ketiga bidang tadi?
Jelas banyak. Kedua negara tidak memiliki masalah di bidang politik. Landasan sehingga bagaimana menerjemahkan hubungan bilateral yang tidak bermasalah itu menjadi sebuah kerjasama yang saling menguntungkan. Tetapi itu kan, secara normatif sudah menjadi tugas kepala perwakilan KBRI atau misi di luar negeri.
Khusus untuk Saudi, memang betul yang Anda sampaikan sebelumnya, adalah agama dan ekonomi. Agama, kita tahu, sumber ajaran Islam dari sana, Nabi turun di sana, kemudian orang banyak menjadikan Saudi sebagai tujuan untuk beribadah.
Di bidang ekonomi, memang Saudi memiliki tingkat ekonomi yang tinggi. Sama-sama seperti RI yang menjadi anggota G20. Tetapi, jumlah penduduk jauh lebih kecil dari Indonesia. Kemudian, dari sisi produk minyak dan gas, Saudi menjadi penghasil minyak terbesar pertama di dunia dan untuk gas nomor lima di dunia. Itu yang menjadi daya tarik.
Dalam mencoba mengelola kerja sama itu, yang didasarkan kepada hubungan baik, RI harus pandai-pandai melihat peluang itu, sekaligus mengelolanya dengan baik. Semakin jelas semakin baik, artinya umpamanya ada persetjuan bersama, kerja sama.
Yang dimaklumi oleh publik bahwa hubungan dan kerja sama di antara kedua negara itu saling menguntungkan. Misalnya dari sisi, apabila politiknya tidak bermasalah, kemudian saling mendukung dalam isu-isu global maupun regional, jelas menguntungkan.
Sebagai contoh, saya mengambil hubungan ekonomi di 2012 yang nilainya hampir mencapai US$7 miliar. Lebih banyak defisit di RI, karena negara kita beli minyak dengan nominal hampir Rp4 miliar lebih. Artinya surplus di Saudi, defisit di RI. Sehingga di dalam perdagangan, Saudi untung, karena surplus itu tadi.
Tetapi, itu pun harus dimaklumi juga. Kenapa begitu, karena Pemerintah Indonesia berupaya untuk menjaga kesinambungan pasokan energi. Sementara itu, Saudi, merupakan salah satu pemasok energi yang konsisten.