Dubes RI untuk Arab Saudi Abdurrahman Mohammad Fachir

Soal Satinah, Upaya Pemerintah Sudah Luar Biasa

Abdurrahman Mohammad Fachir, Wakil Menteri Luar Negerii RI.
Sumber :
  • VIVAnews / Renne Kawilarang

Jadi, mungkin dua daya tarik dari sisi ibadah dan ekonomi. Tetapi, bagaimana Indonesia menampilkan itu ke masyarakat itu penting. Baik publik di Saudi maupun di Indonesia.

Bagaimana cara mendekatkan celah di antara kedua negara agar tidak terlalu jauh?

Saya pikir begini, take it for granted. Kita akan membeli minyak, karena masalah kesinambungan tadi. Artinya energy security-lah. Tetapi, Pemerintah RI juga harus mendorong kepada Saudi untuk melihat komoditas non minyak dan gas yang dimiliki Indonesia sebagai sesuatu yang perlu mereka pertimbangkan.  

Tetapi, ada upaya yang lebih dari Pemerintah RI. Saya tadi mengatakan, RI harus berkompetisi dengan negara-negara lain yang memasok produk non migas ke Saudi. Sebenarnya ada pola yang ingin dicoba di Saudi dan sudah pernah dilakukan saat bertugas di Kairo, Mesir.

Saat itu, saya mengundang pengusaha Mesir ke Wisma Duta untuk makan. Di situ, saya tidak perlu mempromosikan Indonesia. Yang penting itu, bagaimana para pengusaha Mesir yang sukes tersebut mau menyampaikan cara mereka berbisnis dengan pengusaha Indonesia.

img_title Mengenal Batik Trusmi Cirebon, Warisan Turun-temurun yang Kaya Filosofi dan Keunikan

Hal itu akan berbeda, kalau disampaikan oleh pemerintah. Namun, kami juga harus memastikan untuk membantu Pengusaha Mesir yang bermasalah mencarikan solusi. Kan, kalau orang dagang seperti itu.

Seperti filosofi orang Padang, yaitu kalau enak, kasih tahu teman dan keluarga. Apabila ada yang tidak enak, informasikan kepada kami. Sebenarnya seperti, sesederhana itu.

Kedua, yaitu kenapa negara lain bisa pasok itu, sedangkan Indonesia juga memiliki potensi untuk memasok komoditi tertentu dengan melihat pasar. Saya mengibaratkan menjadi seorang penghulu untuk mengawinkan dua pengusaha, itu penting.

Jadi, para Pengusaha Indonesia bisa mengatakan bahwa mereka pun bisa memasok produk tertentu dengan harga yang kompetitif. Dengan mengidentifikasi apa saja kebutuhan Saudi, maka Indonesia bisa berperan dengan memasok kebutuhan tersebut, yang selama ini dipasok oleh negara-negara lain.

Hanya saja, Indonesia dapat mengambil celah dengan mengatakan memiliki produk dengan kualitas lebih bagus dan harga bersaing. Itu kan ilmu dagang yang juga bisa diterapkan. Saya melihat peluang itu besar sekali, karena pada dasarnya Saudi itu negara pengimpor.

Apakah selama ini kurangnya permintaan ke Indonesia, disebabkan Saudi yang lebih selektif atau pemerintah yang kurang berpromosi?

Bisa jadi, apabila seseorang sudah ada di zona nyaman, tidak akan lagi mencari yang aneh-aneh. Untuk itu, dibutuhkan usaha ekstra untuk menampilkan potensi yang dimiliki Indonesia. Kalau saya, lebih melihatnya kepada itu.  

Tetapi itu semua memerlukan upaya. RI diuntungkan di sana, antara lain karena perwakilan kita memiliki atase perdagangan. Atase perdagangan perlu didorong betul.

Terkait masalah investasi, permasalahannya kan juga terletak di dalam Indonesia sendiri. Apakah pemerintah bisa memberikan kepastian bagi para investor bahwa berinvestasi di Indonesia aman, tidak bermasalah, dll. Kalau soal dagang, saya pikir potensinya ada, tetapi pemerintah perlu berusaha ekstra untuk menampilkan itu.

Contoh produk non migas asal Indonesia yang bisa dijual ke Saudi?

Misalnya bisa furnitur, CPO (minyak kelapa sawit mentah), spare part mobil, ban, pakaian jadi, kayu, kertas, beberapa produk kimia. Belum lagi buah-buahan. Tetapi kan, permasalahannya apakah pemerintah bisa menjaga kesinambungan pasokan. Jangan sampai pemerintah hanya bisa memasok sekali, lalu berhenti. Selain kualitas, kesinambungan itu juga diperlukan. Saya pikir itu sesuatu yang bisa dijajaki secara serius.

Salah satu tugas Anda di Arab Saudi adalah memprioritaskan kerja sama ekonomi. Namun, muncul pandangan bahwa energi dubes-dubes RI sebelumnya lebih banyak terkuras untuk melindungi para WNI yang menjadi pekerja di Saudi. Apa lagi saat ini, sedang dilakukan razia besar-besaran. Apakah itu akan menjadi tantangan terbesar saat akan ditempatkan di sana?

Betul, isu tenaga kerja membayangi hubungan dan kerja sama bilateral RI dengan Saudi. Itu memang diakui. Seakan-akan tidak ada hal lain kecuali itu. Sekaligus untuk menjawab pertanyaan tadi, dengan membawa persepsi bahwa hubungan kedua negara sangat luar biasa.

Hal itu dengan sendirinya, akan ditampilkan secara proporsional. Saya tidak merasa kemudian energi akan habis, karena pemerintah akan masalah tenaga kerja secara proporsional, misalnya berapa banyak tenaga atau SDM atau perhatian dan waktu yang harus dicurahkan untuk ke masing-masing tadi. 

Jadi, misalnya kenapa lalu kemudian pemerintah memiliki konsulat jenderal yang menangani masalah kekonsuleran. Kekonsuleran itu berkaitan dengan semua hal yang menyangkut WNI. Di Riyadh juga begitu, pemerintah memiliki tenaga yang lebih banyak daripada untuk mengurusi ekonomi dan politik atau penerangan misalnya.

Tetapi apabila pemerintah sebenarnya bisa tampil lebih terpadu, posisi itu bisa saling mengisi. Tetapi, memang diperlukan usaha bersama untuk sebuah kejelasan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut