Isu Palestina Masalah Semua Umat Islam
- VIVA/Purna Karyanto
Artinya sesuai aturan hukum dan kebiasaan di sana. Kalau memang itu penyebabnya, kami juga bertanya-tanya bahwa beberapa tahun lalu, sekitar 2 sampai 6 orang TKI domestik pulang dari Hong Kong atau China, dalam keadaan meninggal dunia. Tetapi reaksi masyarakat tidak seperti reaksi yang ditunjukkan pada saat TKI dilakukan hukum qisos di Arab Saudi. Ini perlu dipertimbangkan menurut pandangan saya.
Padahal kita ketahui, pekerja domestik seperti di China, Singapura, Hong Kong dan Australia, dia diharamkan untuk mengenakan hijab, kemudian tidak bebas melaksanakan ibadahnya. Sedangkan di Saudi, tidak begitu. Orang dibebaskan melakukan ibadahnya. Kemudian banyak TKI ini berdampak sangat positif. Sebelum ada moratorium, baik kepada ekonomi, pariwisata, di mana Garuda (maskapai), dulu banyak keuntungan dari tukar menukar kerja sama ini.
Namun, setelah adanya moratorium, tentu berdampak sangat signifikan bahkan negatif. Kita ketahui, sebelum moratorium, jumlah TKI sekitar 1 juta, angka besar itu, hal yang logis jika ada unsur pelanggaran. Namun demikian, bukan berarti kita mengatakan semuanya negatif, karena 96 persen TKI sesuai dengan aturan yang berlaku tidak melakukan pelanggaran.
Artinya, berapa persen saja yang melakukan pelanggaran dan ini bukan berarti kondisi di Saudi Arabia kurang baik. Karena jumlah yang sangat besar tentu pengaruh kepada interaksi antarmasyarakat Indonesia dan masyarakat Saudi. Oleh karena itu, mengapa Saudi jadi primadona bagi TKI, karena memang di sana ada kesempatan, paling tidak bisa umrah, bisa haji dan dengan adanya moratorium ini, otomatis bisa mengurangi keinginan masyarakat untuk bisa umrah dan haji.
Kami berharap ke depannya moratorium ini bisa dicabut dan kerja sama di bidang ini dilakukan kembali. Karena memang ini dipentingkan kedua pihak dalam rangka meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di kedua negara. (art)