- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
VIVA – Wajah Fahri Hamzah mengeras. Ia segera berdiri, mengambil spidol, dan bergerak cepat menuju papan tulis. "Saya jelaskan pada Anda, apa yang sesungguhnya sedang dihadapi," ujarnya di dalam ruang rapat kantor redaksi VIVA.
Fahri lalu menuliskan semua yang ia ketahui tentang kondisi politik saat ini. Tentunya tak lepas dari sudut pandang dia sebagai Wakil Ketua DPR RI dan juga politisi Partai Keadilan Sosial, di mana pimpinan partai itu lagi berseteru dengannya.
Padahal di partai itu lah yang selama ini membesarkan dan dibesarkan oleh Fahri. Beberapa kali Fahri terdiam, menarik nafas, atau menggelengkan kepala saat redaksi VIVA menanyakan atau mengonfirmasi soal perpecahan yang terjadi di dalam tubuh PKS, termasuk bagaimana kondisi PKS menghadapi Pileg dan Pilpres 2019.
Fahri menyesalkan gejolak politik yang terjadi di internal PKS. Menurutnya, partai itu harus melakukan perubahan besar jika ingin tetap eksis. Meski demikian ia mengaku akan bertahan. "Saya memilih setia," ujarnya sambil tergelak.
![]()
Wakil Ketua DPR RI dan juga politisi Partai Keadilan Sosial, Fahri Hamzah saat mengunjungi VIVA, di Jakarta. (VIVA/M Ali Wafa)
Perpecahan PKS dan kerasnya keputusan Majelis Syuro soal Pilpres adalah bagian dari keprihatinan Fahri. Ia mengkhawatirkan, nasib partai yang pernah berjaya di Pemilu 2004 dan 2009 itu akan berakhir mengenaskan.
Kekhawatiran Fahri sangat beralasan. PKS saat ini seperti berhadapan dengan “buah simalakama”. Kesetiaannya pada Gerindra menghadapi ujian dengan masuknya Demokrat dalam koalisi yang sudah terjalin intim antara PKS, PAN, dan Gerindra sejak 2014 lalu.
Padahal sejak tahapan Pilkada 2018 selesai, PKS sudah mengambil ancang-ancang untuk menghadapi Pilpres 2019. Mereka mengajukan sembilan nama yang direkomendasikan oleh Majelis Syuro untuk menjadi capres atau cawapres. Begitu pula dengan Partai Amanat Nasional atau PAN. Mandat Rakernas PAN yang diadakan pada tahun 2017 adalah merekomendasikan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan sebagai capres atau cawapres dari partai tersebut.
Di tengah koalisi yang makin melekat, PKS dan PAN mendapat kejutan besar. Kejutan pertama dimulai dengan Prabowo yang dideklarasikan sebagai capres oleh Partai Gerindra. Padahal PKS sudah menyiapkan sembilan nama. PKS juga sudah legowo dengan mengalah di Pilkada DKI dan rela menyeberang meninggalkan Demokrat di Pilkada Jawa Barat.