Mengejar Suara Perempuan di Pemilu

Ilustrasi hak pilih perempuan dalam pemilu.
Ilustrasi hak pilih perempuan dalam pemilu.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

VIVA – Riuh rendah terdengar suara ratusan perempuan menyerukan nama Jokowi dan Ma’ruf Amin. Dalam tampilannya, mereka senada menggunakan kaus bersablon gambar bakal calon presiden dan bakal calon wakil presiden tersebut, berkumpul dalam sebuah ruang acara beberapa waktu lalu. Di bagian depan gedung lokasi acara yang berada di  Kuningan Jakarta itu, tampak ditempeli baliho dan poster berbagai ukuran yang bertuliskan “Super Jokowi”.

Sebagian besar para perempuan yang kelihatannya sudah berusia matang itu tampak menggunakan kerudung. Warnanya putih, selaras dengan kaus dan atasan yang mereka pakai. Ternyata pada 23 Agustus 2018 tersebut sedang ada deklarasi Super Jokowi. Akronim ini berasal dari frase Suara Perempuan Jokowi yang dikoordinir aktivis perempuan Muslim NU, Ida Fauziyah.

Ida memang sudah cukup malang melintang di dunia politik. Selain sebagai anggota legislatif dari PKB, Ida juga cukup dikenal di kalangan perempuan NU. Terakhir, dia maju sebagai calon wakil gubernur Jawa Tengah berdampingan dengan Sudirman Said. Sayangnya, mereka belum beruntung.

Relawan Super Jokowi digagas Ida Fauziyah

Deklarasi Super Jokowi

Di acara deklarasi Super Jokowi, Ida mengatakan, komunitas ini dibentuk tak hanya demi kepentingan pemenangan. Namun juga untuk pemberdayaan perempuan baik kaum ibu maupun perempuan lajang. Super Jokowi, programnya akan berkesinambungan. Buktinya kata Ida, mereka sudah memiliki koordinator di 34 wilayah dan akan berlanjut pada cabang-cabang Super Jokowi di daerah kabupaten dan kota.

Sementara itu, di kubu sebelah, komunitas perempuan yang mengaku mendukung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno melakukan hal yang hampir sama. Secara acak, mereka mendeklarasikan dukungan. Sebagian menggunakan nama Partai Emak-Emak, istilah yang sering disebut-sebut Sandi belakangan ini. Muncul pula nama Pamer Bodi yang merupakan singkatan dari Persatuan Emak-emak Prabowo-Sandi.

Di sejumlah video yang beredar, ditunjukkan komunitas perempuan ini merekam seruan mereka mendukung pasangan Capres-Cawapres tersebut. Dalam salah satu video misalnya, segerombolan perempuan yang menggunakan busana dominan warna merah dengan hijab menyebut diri sebagai bagian Pamer Bodi.

Sementara itu di tempat dan waktu berbeda, ada pula kumpulan para perempuan yang menggunakan busana seragam berwarna toska, bersama-sama mengucapkan dukungan.

Dengan video berlatar poster besar Prabowo-Sandi, diketahui salah satu perempuan di acara itu menjadi pembaca kata per kata dari kalimat dukungan yang lalu diikuti beramai-ramai oleh kelompoknya. Mereka menyebut diri deklarasi ustazah peduli negeri yang tampaknya memiliki kesamaan visi dengan Pamer Bodi.

Jelang Pemilu 2019, tepatnya setelah dipastikan dua paslon akan bertarung di pilpres tahun depan, sasaran dan target pemilih secara eksplisit disampaikan para tim sukses pasangan calon. Salah satunya ceruk suara perempuan yang tak bisa dinafikan jumlahnya hampir sama dengan jumlah pemilih lelaki di daftar pemilih tetap alias DPT.

Beberapa waktu belakangan, mencuat pula istilah emak-emak yang gencar dibawa-bawa oleh pasangan Prabowo-Sandi dan timnya sebagai salah satu kaum yang dianggap paling krusial untuk diperjuangkan dalam proses kontestasi politik.

Halaman Selanjutnya
img_title